BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Guru merupakan salah satu faktor penting dalam proses pembelajaran.
Bagaimanapun idealnya suatu kurikulum tanpa di tunjang oleh kemampuan guru
untuk mengimplementasikannya, maka kurikulum itu tidak akan bermakna sebagai
suatu alat pendidikan.[1]
Peranan guru sangat signifikan dalam usaha peningkatan mutu pendidikan. Untuk
itu guru dituntut memiliki kompetensi dalam menyelenggarakan proses
pembelajaran dengan sebaik-baiknya.
Hal ini sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang RI Nomor 14 Tahun
2005 Tentang Guru dan Dosen yang menyatakan bahwa:
Guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat
pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan
tujuan pendidikan nasional. Selanjutnya Mendiknas RI melalui Permen Nomor 16
Tahun 2007 menetapkan Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru.[2]
Kompetensi merupakan kemampuan seseorang guru dalam melaksankan
kewajiban-kewajiban secara bertanggung jawab dan layak. Kompetensi yang
dimiliki oleh setiap guru akan menunjukkan kualitas guru dalam mengajar.
Kompetensi
tersebut
akan terwujud dalam penguasaan
pengetahuan dan profesional dalam
menjalankan fungsinya sebagai guru.[3]
Pemerintah dalam kebijakan pendidikan nasional telah merumuskan
empat kompetensi guru, hal tersebut tercantum dalam penjelasan Peraturan Pemerintah
Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, yaitu kompetensi
pedagogik, kepribadian, social, dan professional.[4]
a.
Kompetensi
Pedagogik
Kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran
peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap siswa, perancangan dan
pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan siswa untuk
mengaktualisasikan potensi yang dimilikinya.
b.
Kompetensi
Kepribadian
Kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap,
stabil dan dewasa, arif dan berwibawa, menjadi teladan bagi siswa, dan
berakhlak mulia.
c.
Kompetensi
Profesional
Kompetensi Profesional adalah kemampuan penguasaan materi
pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan membimbing siswa
memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam SNP.
d.
Kompetensi
sosial
Kompetensi sosial adalah kemampuan pendidik sebagai bagian dari
masyarakat untuk berkomunikasi dan
bergaul secara efektif dengan siswa, sesame pendidik, tenaga
kependidikan, orang tua/walli siswa, dan masyarakat sekitar.[5]
Dalam tulisan ini,
hanya akan disoroti
salah satu jenis
kompetensi saja yakni kompetensi Profesional.
Penelitian ini sama sekali tidak bermaksud untuk mengesampingkan pentingnya
ketiga kompetensi lainnya.
Tetapi, hanya bermaksud
mengungkapkan dan menonjolkan satu jenis kompetensi saja secara khusus dan
berusaha meninjaunya lebih dalam secara komprehensif.
Guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik,
mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi siswa
pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan
menengah. Orang yang disebut guru adalah orang yang memiliki kemampuan
merancang program pembelajaran, serta mampu menata dan mengelola kelas agar
siswa dapat belajar dan pada akhirnya dapat mencapai tingkat kedewasan sebagai
tujuan akhir dari proses pendidikan.[6]
Pembelajaran
Al-Qur’an Hadits merupakan kegiatan yang dipilih pengajar dalam proses
pembelajaran, supaya proses pembelajaran Al-Qur’an Hadits berlangsung dengan
baik perlu diatur metodenya. Penggunaan metode sangat mempengaruhi proses
pembelajaran Al-Qur’an Hadits, oleh karena itu seorang guru hendaklah menggunakan metode
yang baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran Al-Qur’an Hadits. Penggunaan
metode yang sesuai akan mendukung tercapainya tujuan sebagaimana yang
diharapkan, akan tetapi penggunaan metode yang tidak sesuai dengan bahan
pelajaran dapat menyebabkan kesulitan bagi siswa dalam mencerna pelajaran yang
telah disampaikan oleh guru sehingga tujuan yang ingin dicapai tidak sempurna
sebagaimana yang di inginkan.[7]
Dalam pendidikan guru mampu menetapkan berbagai pendekatan,
strategi, metode, dan teknik pembelajaran yang mendidik secara kreatif sesuai
dengan standar kompetensi guru. Guru menyesuaikan metode pembelajaran supaya
sesuai dengan karakteristik peserta didik dan memotivasi mereka untuk belajar.[8]
Dalam proses penilaian kompetensi penguasaan materi, kemampuan yang
dinilai adalah bagaimana rancangan materi dan kegitan pembelajaran, penyajian
materi baru dan respon guru terhadap peserta didik memuat informasi pelajaran
yang tepat dan mutakhir. Pengetahuan ini ditampilkan sesuai dengan usia dan
tingkat pembelajaran peserta didik. Guru benar-benar memahami mata pelajaran
dan bagaimana mata pelajaran tersebut di sajikan di dalam kurikulum. Guru dapat
mengatur, menyesuaikan dan menambah aktivitas untuk membantu peserta didik
menguasai aspek-aspek penting dari suaatu pelajaran dan meningkatkan minat dan
perhatian didik terhadap pelajaran.[9]
Salah satu faktor yang menentukan berhasil tidaknya siswa dalam
proses belajar yang sekaligus mempengaruhi proses belajar mengajar adalah
motivasi belajar. Dalam kegiatan belajar, motivasi merupakan keseluruhan
penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin
kelangsungan dari kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan
belajar.
Motivasi mempunyai peranan penting dalam proses belajar mengajar,
baik bagi guru maupun siswa. Bagi guru megetahui motivasi belajar dari siswa
sangat diperlukan guna memelihara dan meningkatkan semangat belajar siswa.
Sedangkan bagi siswa motivasi belajar dapat menumbuhkan semangat belajar
sehingga siswa terdorong untuk melakukan kegiatan belajar[10]
Berdasarkan hasil observasi yang saya lakukan di sekolah MI
Al-Khairaat Kota Gorontalo, ternyata guru menemukan masalah-masalah dalam
proses belajar mengajar. Salah satu dari masalah tersebut yaitu ketika guru
kesulitan dalam memilih metode yang sesuai dan tentunya bisa memotivasi siswa
untuk semangat dalam mengikuti proses belajar mengajar. Dan pada saat proses
pembelajaran berlangsung guru tersebut kelihatannya belum menguasai materi,
karena beliau masih melihat di buku. Dan juga, kurangnya semangat peserta didik
dalam mengikuti pelajaran al-qur’an hadis. Hal ini di buktikan masih rendahnya
kesadaran guru dalam memilih metode pembelajaran untuk membangkitkan semangat
dan motivasi peserta didik supaya mereka senang mengikuti pelajaran al-qur’an
hadis.[11]
Oleh karena itu, peneliti memilih judul Kompetensi Profesional Guru Al-Qur’an Hadis
Dalam Memilih Metode Dan Penyajian Materi Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar
Peserta Didik Di Mi Al-Khairaat Kota Gorontalo karena peneliti ingin mengetahui Apakah metode
yang dipilih oleh guru dalam menyajikan materi tepat dan mampu meningkatkan
motivasi belajar peserta didik di mi al-khairaat kota gorontalo.
B.
Fokus dan Subfokus
Berdasarkan
latar belakang masalah, peneliti menetapkan fokus penelitian, yaitu Kompetensi Profesional Guru Al-Qur’an Hadis
Dalam Memilih Metode Dan Penyajian Materi Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar
Peserta Didik Di Mi Al-Khairaat Kota Gorontalo.
C.
Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang masalah dan focus penelitian, penulis dapat merumuskan
permasalahan yang akan dikaji dalam skripsi ini, rumusan masalah tersebut
adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana Kompetensi Profesional Guru Al-Qur’an
Hadis Dalam Memilih Metode Dan Penyajian Materi Untuk Meningkatkan Motivasi
Peserta Didik Di Mi Al-Khairaat Kota Gorontalo?
2.
Apakah
metode yang dipilih oleh guru dalam penyajian materi dapat meningkatkan
motivasi belajar peserta didik di mi al-khairaat kota gorontalo.?
D.
Manfaat Penelitian
Penelitian
ini memiliki beberapa tujuan yang telah diuraikan sebelumnya dan dimaksudkan
agar dapat memberikan manfaat bagi banyak pihak, baik secara teoritis maupu
secara praktis.
1.
Manfaat
Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan memberi sumbangan kepada ilmu
pendidikan, bermanfaat untuk menambah wacana, pengetahuan dan wawasan penulis
tentan kompetensi professional guru al-qur’an hadis dalam memilih metode dan
penyajian materi untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik.
2.
Manfaat
Praktis
Penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk beberapa pihak,
diantaranya:
a.
Guru
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan untuk menambah pengetahuan
dan pemahaman tentang kompetensi guru dalam rangka meningkatkan pengajarannya
serta menjadi pendorong untuk selalu mengintropeksi diri dan memperbaiki
kerjanya di MI Al-Khairaat Kota Gorontalo.
b.
Peserta
didik
Hasil penelitian ini dimungkinkan
untuk dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami dan menyerap
materi peljaran yang disampaikan oleh guru.
c.
Peneliti
Penelitian juga berguna bagi peneliti untuk menambah wawasan dan
pengalaman sebelum terjun langsung sebagai guru professional.
E.
Kajian Relevan
Penelitian yang relevan adalah penelitian yang digunakan sebagai
perbandingan untuk menghindari manipulasi terhadap sebuah karya ilmiah dan
menguatkan bahwa penelitian yang penulis lakukan benar-banar belum diteliti
oleh orang lain. Penelitian terdahulu yang relevan pernah dilakukan oleh orang
lain, diantaranya sebagai berikut: Sumarni Otoluwa: Fakultas Tarbiyah dan
Tadris Jurusan Kependidikan Islam IAIN
Sultan Amai Gorontalo, Tahun 2012 meneliti dengan judul Profesionalisme Guru
Dalam Meningkatkan Kompetensi Pembelajaran Siswa Madrasah Anggrek Kabupaten
Gorontalo Utara. Berdasarkan hasil penelitian, disimpulkan Profesionalisme guru
dalam meningkatkan kompetensi belajar siswa mencakup; Pertama, guru
telah menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang
mendukung mata pelajaran yang diampu. Kedua, menguasai standar
kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran yangdiampu. Ketiga,
mengembangkan materi pembelajaran yang diampu secara kreatif. Keempat,
mengembangkakn keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan
reflektif. Kelima, sebahagian besar guru yang ada memanfaatkan teknologi
informasi dan komunikasi untuk mengembangkan diri. Terdapat kendala dalam
mningkatkan kompetensi belajar siswa diantaranya; minimnya sumber dan media
pembelajaran, sarana dan prasarana yang
masih relative terbatas, keberadaan guru yang berstatus guru tidak tetap,
minimnya anggaran yang ada. Adapun upaya mencakup; memperbaiki kemampuan serta
kompetensi guru serta melakukan kerja sama dengan pihak pemerintah dan
masyarakat.
Penelitian kedua yaitu di bahas oleh Sindita Hasan (IAIN Sultan
Amai Gorontalo: 2016) yang bejudul Deskripsi
kompetensi profesional guru dalam pelaksanaan evaluasi pembelajaran PAI
Akhir semester berbasis kurikulum 2013 di SMP negeri 11 Gorontalo memaparkan
tentang hasil penelitian di temukan bahwa; pertama kommpetenssi
professional guru sudah cukup baik dalam pelaksanaan evaluasi pemeblajaan hal
ini dapat dilihat dari kemampuan dan
keahlian para guru pada saat melaksanakan evaluasi pembelajaran. Kedua
memanfaatkan hasil evaluasi pembelajaran diantaranya untuk memberikan feedback
(umpan balik) bagi penyempurnaan program pembelajaran, baik secara langsung
maupun tidak langsung. Ketiga kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan
evaluasi pelajaran PAI akhir semester berbasis kurikulum 2013; (1) guru
mengalami kesulitan dalam memahami karakteristik peserta didik serta cara
belajar yang berbeda-beda.
Berdasarkan penelitian-penelitian tersebut, terlihat bahwa adanya
perbedaan fokus masalah yang akan diteliti oleh peneliti. Hal ini dapat di
lihat dari tujuan penelitian sebelumnya yang telah di jelaskan, sedangkan
penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kompetensi profesional guru al-qur’an
hadis dalam memilih metode dan penyajian materi untuk meningkatkan motivasi
belajar peserta didik di MI Al-Khairaat Kota Gorontalo.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Hakikat Kompetensi Profesional Guru Al-Qur’an Hadis
1.
Definisi Kompetensi Profesional
Pengertian dasar kompetensi (competency) adalah
kemampuanatau kecakapan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kompetensi
berarti kewenangan/kekuasaan untuk menentukan (memutuskan sesuatu). Kompetensi
merupakan perpaduan dari pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap yang
direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak.
Kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan
perilaku yang harus dimiliki, dihayati dan dikuasai oleh guru dalam
melaksanakan tugasnya. Kompetensi bermakna kewenangan dan kekuasaan untuk
menentukan atau memutuskan sesuatu. Maksudnya bahwa, seseorang yang memiliki
kompetensi berarti memiliki kewenangan dan tanggung jawab terhadap tugas yang
diembannya, guru yang bekompetensi harus tetap menjaga eksistensinya dan
menjaga wibawanya di hadapan siswa.
Menurut Mc. Ashan, kompetensi diartikan sebagai pengetahuan,
keterampilan dan kemampuan yang dikuasai oleh seseorang yang telah menjadi
bagian dari dirinya sehingga ia dapat melakukan perilaku-perilaku kognitif,
afektif, dan psikomotorik dengan
sebaik-baiknya. Sedangkan menurut Yasin, kompetensi adalah serangkaian tindakan
penuh rasa tanggung jawab yang dimiliki[1]
oleh seseorang sebagai persyaratan untuk dapat dikatakan berhasil dalam melaksanakan tugasnya.
Dari beberapa pendapat tersebut, maka jelas bahwa suatu kompetensi
harus didukung oleh pengetahuan, sikap, dan apresiasi. Artinya, tanpa
pengetahuan dan sikap, tidak mungkin muncul suatu kompetensi tertentu. Sehingga
guru data dianggap berkompeten jika memiliki kemampuan, pengetahuan dan sikap
yang mampu mendatangkan apresiasi bagi guru.
Kompetensi guru adalah salah satu faktor yang memengaruhi
tercapainya pembelajaran dan pendidikan
di sekolah, namun kompetensi guru tidak berdiri sendiri, melainkan dipengaruhi
oleh latar belakang pendidikan, pengalaman mengajar, dan lamanya mengajar.
Kompetensi guru dapat dinilai penting sebagai alat seleksi dalam penerimaan
calon guru, juga dapat dijadikan sebagai
pedoman dalam rangka pembinaan dan pengembangan tenaga guru. Selain itu,
kompetensi juga penting dalam hubungannya dengan kegiatan pembelajaran dan hasil belajar
siswa.
Dengan kompetensi profesional tersebut, dipastikan dapat
berpengaruh pad proses pengelolaan pendidikan sehingga mampu melahirkan
keluaran pendidikan yang bermutu. Keluaran pendidikan yang bermutu dapat
dilihat dari hasil langsung pendidikan yang berupa nilai yang dicapi siswa dan
dapat juga dilihat dari dampak pengiring, yaitu siswa setelah di masyarakat.
Kompetensi merupakan kemampuan seseorang guru dalam melaksanakan
kewajiban-kewajiban secara bertanggung jawab dan layak. Kompetensi yang dimiliki
oleh setiap guru akan menunjukan
kualitas guru dalam mengajar. kompetensi tersebut akan terwujud dalam
penguasaan pengetahuan dan profesional dalam menjalankan fungsinya sebagai
guru.[2]
Tujuan kompetensi guru menurut Sardiman, diantaranya yaitu:
a.
Guru
memiliki kemampuan pribadi. Maksudnya, guru diharakan mempunyai pengetahuan,
kecakapan, dan keterampilan, serta sikap yang lebih mantap dan memadai sehingga
mampu mengelola proses pembelajaan dengan baik.
b.
Agar
guru menjadi innovator, yaitu tenaga kependidikan yang mampu komitmen terhadap
upaya perubahan dan informasi ke arah yang lebih baik.
c.
Guru
mampu menjadi developer, yaitu guru mempunyai visi keguruan yang mantap
dan luas perspektifnya.
Menurut Muhammad Surya yang dikutip Ramayulis, sekurang-kurangnya ada
empat kompetensi guru agama, yaitu:
1)
Menguasai
substansi materi pembelajaran
2)
Menguasai
metodologi mengajar
3)
Menguasai
teknik evaluasi dengan baik
4)
Memahami,
menghayai dan mengamalkan nilai-nilai moral dan kode etik profesi.[3]
Dalam pendidikan Islam, khususnya pada pembelajaran Al-qur’an
Hadist, maka kualifkasi kompetensi guru harus relevan dengan pembelajaran
tersebut. Hal ini dimaksudkan agar pebelajaran yang dilakukan dapat berjalan
sebagaimana yang diharapkan.
Allah swt, menerangkan di dalam Al-Qur’an tentang pentingnya
kompetensi atau penguasaan pengetahuan dalam melaksanakan setiap profesi,
sebagaimana firmannya dalam Q.S Ar-Rahman: 33 sebagai berikut

Terjemahnya:
“Hai jama'ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus
(melintasi) penjuru langit dan bumi, Maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya
kecuali dengan kekuatan (pengetahuan)” (Q.S Ar-Rahman: 33)
Mencermatai ayat tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa kompetensi
guru dapat dikonotasikan dengan kekuatan. Dalam ayat tersebut disebutkan oleh
Allah bahwa manusia tidak dapat mampu menembus penjuru langit dan bumi
melainkan dengan kekuatan, artinya guru tidak akan dapat melaksanakan tugasnya
profesinya sebagai guru apabila tidak memiliki sejumlah pengetahuan, dalam hal
ini kompetensi.
Dengan demikian dapat dipahami bawa kompetensi pada hakekatnya
merupakan kemampuan yang dimiliki guru, berupa ilmu pengetahuan agar dapat
berhasil dalam melaksanakan tugasnya sebagai guru.[4]
2.
Kriteria Guru Profesional
Menjadi seorang guru bukanlah pekerjaan yang gampang, seperti yang
dibayangkan sebagian orang, dengan bermodal penguasaan materi dan
menyampaikannya kepada siswa sudah cukup, hal ini belumlah dapat diketagori
sebagai guru yang memiliki pekerjaan professional, karena guru yang
professional, mereka harus memiliki berbagai keterampilan, kemampuan khusus,
mencintai pekerjaannya, menjaga kode etik guru, dan lain sebagainya.
Guru professional harus memiliki persyaratan, yang meliputi: (i)
Memilliki bakat sebagai guru; (ii) Memiliki keahlian sebagai guru; (iii)
memiliki keahlian yang baik dan teritegrasi; (iv) memiliki mental yang sehat,
Berbadan sehat; (v) memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas; (vi) guru
adalah manusia berjiwa pancasila; (vii) guru adalah seorang warga Negara yang
baik.[5]
Kunandar mengemukakan bahwa suatu pekerjaan professional memerlukan
persyaratan khusus, yakni (1) menurut adanya keterampilan berdasarkan konsep
dan teori ilmu pengetahuan yang mendalam; (2) menekankan pada suatu keahlian dalam
bidang tertentu sesuai dengan bidang profesinya; (3) menuntut adanya tingkat
pendidikan yang memadai; (4) adanya kepekaan terhadap dampak kemasyarakatan
dari pekerjaan yang dilaksanakannya; (5) memungkinkan perkembangan sejalan
dengan dinamika kehidupan.
Guru yang professional akan tercermin dalam pelaksanaan pengabdian
tugas-tugas yang ditandai dengan keahlian baik dalam materi maupun dalam
metode. Selain itu, juga ditunjukan melalui tanggung jawabnya dalam
melaksanakan seluruh pengabdiannya. Guru yang professional hendaknya mampu
memikul dan melaksanakan tanggung jawab sebagai guru kepada peserta didik,
orang tua, masyarakat, bangsa, negara, dan agamanya. Guru professional
mempunyai tanggung jawab pribadi, social, intelektual, moral, dan spiritual.[6]
B.
Hakikat Metode dan Penyajian Materi/bahan ajar
1.
Pengertian Metode pembelajaran
Metode pembelajaran adalah cara teratur yang digunakan untuk
melaksanakan pembelajaran. Metode pembelajaran adalah cara kerja yang bersistem
untuk memudahkan pelaksanaan pembelajaran, sehingga kompetensi dan tujuan
pembelajaran dapat tercapai. Metode pembelajaran
adalah cara yang digunakan guru untuk mengimplementasikan rencana yang sudah
disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untu mencapai tujuan
pembelajaran.[7]
2.
Memilih metode pembelajaran yang efektif
Perkembangan mental peserta didik di sekolah, anatara lain meliputi
kemampuan untuk bekerja secara abstraksi menuju konseptual. Implikasinya pada
pembelajaran, harus memberikan pengalaman yang
bervariasi dengan metode yang efektif dan bervariasi. Pembelajaran harus
memperhatikan minat dan kemampuan peserta didik.
Penggunaan metode yang tepat akan turut menentukan efektivitas dan
efisiensi pembelajara. Pembelajaran perlu dilakukan dengan sedikit cerama dan
metode yang berpusat pada guru, serta lebih menekankank pada interaksi peserta
didik. Penggunaan metode yang bervariasi akan sangat membantu peserta didik
dalam mencapai tujuan pembelajaran.
Pengalaman belajar di sekolah harus fleksibel dan tidak kaku, serta
perlu menekankan ada kreativitas, rasa ingin tahu, bimbingan dan pengarahan kea
rah kedewasaan. Sesuai dengan pendekatan seperti telah dibahas di atas, metode
pembelajaran harus dipilih dan dikembangkakn untuk meningkatkan aktivitas dan
kreativitas peserta didik. Berikut dikemukakan beberapa metode pemblajaran yang
dapat dipilih oleh guru.
1)
Metode Demonstrasi
Melalui metode demonstrasi guru mepmperlihatkan suatu proses,
peristiwa, atau cara kerja suatu alat kepada peserta didik. Demonstrasi dapat
dilakukan dengan berbagai cara, dari yang sekedar memberikan pengetahuan yang
sudah diterima begitu saja oleh peserta didik , sampai pada cara agar peserta
didik dapat memecahkan suatu masalah.
Agar pemebalajaran dengan menggunakan metode demonstrasi
berlangsung secara efektif, langkah-langkah yang dianjurkan adalah sebagai
berikut.
a)
Lakukanlah
perencanaan yang matang sebelum pembelajaran dimulai. Hal-hal tertentu perlu di
persiapkan, terutama fasilitas yang akan digunakan untuk kepentingan
demonstrasi.
b)
Rumuskanlah
tujuan pembelajaran dengan metode demonstrasi, dan pilihlah materi yang tepat
untuk didemonstrasikan .
c)
Buatlah
garis besar langkah-langkah demonstrasi, akan lebih efektif jika yang dikuasai
dan dipahami baik oleh peserta didik maupun oleh guru.
d)
Tetapkanlah
apakah demonstrasi tersebut akan dilakukan guru atau oleh peserta didik, atau
oleh guru kemudian diikuti peserta didik.
e)
Mulailah
demonstrasi denga menarik perhatian seuruh peserta didik, dan ciptakanlah
suasana yang tenang dan menyenangkan.
f)
Upayakanlah
agar semua peserta didik terlibat secara aktif dalam kegiatan pembelajaran.
g)
Lakukanlah
evaluasi terhadap pembelajaran yang telah dilaksanakan ,baik terhadap
efektivitas metode demonstrasi maupun terhadap hasil belajar peserta didik.
Untuk memantapkan hasil pembelajaran melaui metode demonstrasi,
pada akhir pertemuan dapat diberikan tugas-tugas yang sesuai dengan kegiatan
yang telah dilaksanakan.
2)
Metode Inquiri
Inquiri berasal dari bahasa Inggris “inquiri”, yang secara
harfiah berarti penyelidikan . Carin dan Sund mengemukakan bahwa inquiri
adalah the process of investigating a problem. Adapun Piaget mengemukakan
bahwa metode inquiri merupakan metode yang mempersiapkan peserta didik pada
situasi untuk melakukan eksperimen sendiri secara luas agar melihat apa yang
terjadi, ingin melakukan sesuatu, mengajukan pertanyaan-pertanyaan, dan mencari
jawabannya sendiri, serta menghubungkakn penemuan yang satu dengan penemuan
yang lain, membandingkan apa yang ditemukannya dengan yang ditemukan peserta
didik lain.
Metode inquiri merupakan metode penyelidikan yang melibatkan proses
mental dengan kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
a.
Mengajukan
pertanyaan-pertanyan tentang fenomena alam
b.
Merumuskan
masalah yang ditemukan
c.
Merumuskan
hipotesis
d.
Merancang
dan melakukan eksperimen
e.
Mengumpulkan
dan menganalisis data
f.
Menarik
kesimpulan mengembangkan sikap ilmiah, yakni: objektif, jujur, hasrat ingin
tahu, terbuka, berkemauan, dan tanggung jawab.
Sund and Trowbridge (1973) mengemukakan tiga macam metode inquiri
sebagai berikut
a)
Inquiri
terpimpin (Guide inquiri); peserta didik memperoleh pedoman
sesuai dengan yang dibutuhkan. Pedoman-pedoman tersebut biasanya berupa
pertanyaan-pertanyaan yang membimbing. Pendekatan ini digunakan terutama bagi
para peserta didik yang belum berpengalaman belajar dengan metode inquiri,
dalam hal ini guru memberikan bimbingan dan pengarahan yang cukup luas. Pada
tahap awal bimbingan lebih banyak diberikan, dan sedikit demi sedikit
dikurangi, sesuai dengan perkembangan pengelaman peserta didik. Dalam
pelaksanaannya sebagian besar perencanaan dibuat oleh guru. Peserta didik tidak
merumuskan permasalahan. Petunjuk yang cukup luas tentang bagaimana menyusun
dan mencatat data diberikan oleh guru.
b)
Inquiri bebas (free inquiri), pada inquiri bebas peserta didik
melakukan penelitian sendiri bagaikan seorang ilmuan. Pada pengajaran ini
peserta didik harus dapat mengidentifikasikan dan merumuskan berbagai topic
permasalahn yang hendak diselidiki. Metodenya adalah inquiri role approach
yang melibatkan peserta didik dalam kelompok tertentu, setiap anggota kelompok
memiliki tugas sebagai, misalnya coordinator kelompok, pembimbing teknis,
pencatatan data, dan pengevaluasi proses.
c)
Inquiri
bebas yang dimodifikasi (modified free Inquiri); pada
inquiri ini guru memberikan permasalahan atau problem dan kemudian peserta
didik diminta untuk memecahkan permasalahan tersebut melalui pengamatan,
eksplorasi dan prosedur penelitian.
3)
Metode Penemuan
Penemuan (discovery) merupakan metode yang lebih menekankan
pada pengalaman langsung. Pembelajaran dengan metode penemuan lebih
mengutamakan proses dari pada hasil belajar.
Cara mengajar dengan metode penemuan menempuh langkah-langkah
berikut.
a.
Adanya
masalah yang akan dipecahkan
b.
Sesuai
dengan tingkat perkembangan koqnitif peserta didik.
c.
Konsep
atau prinsip yang harus ditemukan oleh peserta didik melalui kegiatan tersebut
perlu dikemukakan dan ditulis secara jelas.
d.
Harus
tersedia alat dan bahan yang diperlukan
e.
Susunan
kelas diatur sedemikian rupa sehingga memudahkan terlibatnya arus bebas pikiran
peserta didik dalam kegiatan belajar-mengajar.
f.
Guru
harus memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengumpulkan data.
g.
Guru
harus memberikan jawaban dengan tepat dan tepat dengan data dan informasi yang
diperlukan peserta didik.
4)
Metode Eksperimen
Metode eksperimen merupakan suatu bentuk pembelajaran yang
melibatkan peserta didik bekerja dengan benda-benda, bahan-bahan dan peralatan
laboratorium, baik secara perorangan maupun kelompok. Eksperimen merupakan
situasi pemecahan masalah yang di dalamnya berlangsung pengujian suatu
hipotesis, dan terdapat variable-variabel yang dikontrol secara ketat. Hal yang
diteliti dalam suatu eksperimen adalah pengaruh variable tertentu terhadap
variable lain.
Hal-hal yang perlu dipersiapkan guru dalam menggunakan metode
eksperimen adalah sebagai berikut.
a)
Tetapkan
tujuan eksperimen.
b)
Persiapkan
alat dan atau bahan yang diperlukan.
c)
Persiapkan
tempat eksperimen.
d)
Pertimbangkan
jumlah peserta didik sesuai dengan alat-alat yang tersedia.
e)
Perhatikan
keamanan dan kesehatan agar dapat memperkecil atau menghindarkan risiko yang
merugikan atau berbahaya.
f)
Perhatikan
disiplin atau tata tertib, terutama dalam menjaga peralatan dan bahan yang akan
digunakan.
g)
Berikan
penjelasan tentang apa yang harus diperhatikan dan tahapan-tahapan yang mesti
dilakukan peserta didik, termasuk yang dilarang dan yang membahayakan.
5)
Metode Pemecahan Masalah
Menurut Gagne )1985), kalau seorang peserta didik dihadapkan pada
suatu maasalah, pada akhirnya mereka bukan hanya sekedar memecahkan masalah,
tetapi juga belajar suatu yang baru.
Pemecahan masala memegang peranan penting baik dalam pelajaran
sains maupun dalam banyak disiplin ilmu lainnya, terutama agar pembelajaan
berjalan dengan fleksibel.
Para ahli mengemukakan berbagai langkah dalam melakukan pemecahan
masalah, tetapi pada hakikatnya cara yang dikemukakan adalah sama. Tetapi pada
hakikatnya cara yang dikemukakan adalah sama. Davis dan Alexander (1974)
mengemukakan langkah-langkah pemecahan masalah sebagai suatu seri, yang
meliputi: sensing potensial problems, formulating problem, search for
solution, trade-of among solution and initial selection, implementation and
evaluation. Berdasarkan hal tersebut, pembelajaran dengan metode pemecahan
masalah akan menempuh langkah-langkah sebagai berikut:
·
merasakan
adanya masalah-masalah yang potensial.
·
Merumuskan
masalah.
·
Mencari
jalan keluar
·
Memilih
jalan keluaryang paling tepat.
·
Melaksanakan
pemecahan masalah.
·
Manila
apakah pemecahan masalah yang dilakukan sudah tepat atau belum.
6)
Metode Karyawisata
Karyawisata merupakan suatu perjalan atau pesiar yang dilakukan
oleh peserta didik untuk memperoleh pengalaman belajar, terutama pengalaman
langsung dan merupakan bagian integral dari kurikulum sekolah. Meskipun
karyawisata memiliki banyak hal yang bersifat nankademis, tujuan umum
pendidikan dapat segera dicapai, terutama berkaitan dengan pengembangan wawasan
pengalaman tentang dunia luar.
Sebelum karyawisata digunakan dan dikembangkan sebagai metode
belajar-mengajar, hal-hal yang perlu dilakukan adalah.
a.
Menentukan
sumber-sumber masyarakat sebagai sumber belajar-mengajar.
b.
Mengamati
kesesuaian suber belajar dengan tujuan dan program sekolah.
c.
Menganalisis
sumber belajar berdasarkan nilai-nilai pedagogies
d.
Menghubungkan
sumber belajar dengan kurikulum, pakah sumber-sumber belajar dalam karyawisata
menunjang dan sesuai dengan tuntutan kurikulum, jika ya, karyawisata dapat
dilaksanakan.
e.
Membuat
dan mengembangkan program karyawisata secara logis, dan sistematis.
f.
Melaksanakan
karyawisata sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan, dengan memperhatikan
tujuan pembelajaran materi pelajaran, efek instruksional dan pengiring, iklim
yang kondusif.
g.
Menganalisis
apakah tujuan karyawisata telah tercapai atau tidak, apakah terdapat
kesulitan-kesulitan perjalanan atau kunjungan, memberikan surat ucapan terima
kasih kepada mereka yang telah membantu, membuat laporan karyawisata dan
catatan untuk bahan karyawisata yang
akan datang.
7)
Metode Perolehan Konsep
Belajar konsep merupakan hasil utama pendidikan, konsep-konsep
merupakan batu-batu pembangun (Building Block) berpikir. Konsep-konsep
merupakan dasar bagi proses-proses mental yang lebih tinggi untuk memasukan
prinsip-prinsip dan generalisasi-generalisasi. Oleh karena itu, untuk
memecahkan masalah, seorang peserta didik harus mamatuhi aturan-aturan antara
yang selaras dan aturan-aturan ini didasarkan pada konsep-konsep yang
diperolehnya.
Perolehan konsep menurut Ausubel (1968), diperoleh dengan dua cara,
yaitu konnsep formasi dan konsep asimilasi. Konsep formasi terutama merupakan
bentuk peroleh konsep sebelum peserta didik masuk sekolah. Konsep formasi dapat
disamakan dengan belajar konsep kongkrit menurut Gagne (1977). Konsep asimilasi
merupakan cara-cara untuk memperoleh konsep selama dan sesudah sekolah.
8)
Metode Penugasan
Metode penugasan merupakan cara penyajian bahan pelajaran. Pada
metode ini guru memberikan seperangkat tugas yang harus dikerjakan peserta
didik, baik secara individual maupun secara kelompok.
Agar metode penugasan dapat berlangsung secara efektif, guru perlu
memperhatikan langkah-langkah sebagai berikut.
a.
Tugas
harus direncanakan secara jelas dan sistematis , terutama tujuan penugasan dan
cara pengerjaannya. Sebaiknya tujuan penugasan dikomunikasikan kepada peserta
didik agar tahu arah tugas yang dikerjakan.
b.
Tugas
yang diberikan harus dapat dipahami peserta didik, kapan mengerjakannya,
bagaimana cara mengerjakannya, beerapa lama tugas tersebut harus dikerjakan,
secara individu atau kelompok, dan lain-lain. Hal-hal tersebut akan sangat
menentukan efektivitas penggunaan metode
penugasan dalam pembelajaran.
c.
Apabila
tugas tersebut berupa tugas kelompok, perlu diupayakan agar seluruh anggota
kelompok dapat terlibat secara aktif dalam proses penyelesaian tugas tersebut,
terutama kalau tugas tersebut diselesaikan di luar kelas.
d.
Perlu
diupayakan guru mengontrol proses penyelesaian tugas yang dikerjakan oleh
peserta didik. Jika tugas tertsebut diselesaikan di kelas guru bisa berkeliling
mengontrol pekerjaan peserta didik, sambil memberikan motivasi dan bimbingan
terutama bagi peserta didik yang mendapat kesulitan dalam penyelesaian tugas
tersebut. Jika tugas tersebut diselesaikan di luar kelas, guru bisa mengontrol
proses penyelasaian tugas melalui konsultasi dari para peserta didik. Oleh
karena itu,[8]
dalam penugasan yang harus diselesaikan di luar kelas sebaiknya para peserta
didik diminta untuk memberikan laporan kemajuan mengenai tugas yang dikerjakan.
e.
Berikanlah
penilaian secara proporsional terhadap tugas-tugas yang dikerjakan peserta
didik. Penilaian yang diberikan sebaiknya tidak hanya menitikberatkan pada
produk, tetapi perlu dipertimbangkan pula bagaimana proses penyelesaian tugas
tersebut. Penilaian hendaknya diberikan secara langsung setelah tugas
diselesaikan, hal ini disamping akan mnimbulkan minat dan semangat belajar
peserta didik, juga menghindarkan bertumpuknya pekerjaan peserta didik yang harus
diperiksa.
9)
Metode Ceramah
Ceramah merupakan metode yang paling umum digunakan dalam
pembelajaran. Pada metode ini, guru menyajikan bahan melalui penuturan atau
penjelasan lisan secara langsung terhadap peserta didik.
Dalam pelaksanaan ceramah
untuk menjelaskan uraiannya, guru dapat menggunakan alat-alat bantu seperti
gambar, dan Audio Visual lainnya. Ceramah adalah penuturan lisan dari guru
kepada peserta didik, ceramah juga sebagai kegiatan memberikan informasi dengan
kata-kata sering mengaburkan dan kadang-kadang ditafsirkan salah, kadang-kadang
terjadi pula orang baru saja mengikuti ceramah, jika ditanya, tidak tahu
apa-apa. Kemungkinan terjadinya hal ini adalah karena penceramahnya kurang
pandai menyampaikan informasi dan mungkin pula karena khalayaknya bukan
pendengar yang baik. Karena itu alat utama dalam metode ceramah ini adalah
berhubungan dengan siswa menggunakan bahasa lisan.[9]
Hal-hal yang
perlu dipersiapkan guru dalam menggunakan metode ceramahadalah sebagai berikut.
a.
Rumuskan
tujuan instruksional khusus, mengembangkan pokok-pokok materi belajar-mengajar,
dan mengkajinya apakah hal tersebut tepat diceramahkan.
b.
Apabila
akan divariasikan dengan metode lain, perlu dipikirkan apa yang akan
disampaikan melalui ceramah dan apa yang akan disampaikan dengan metode
lainnya.
c.
Siapkan
alat peraga atau media pelajaran secara matang, alat peraga atau media apa yang
akan digunakan. Demikian halnya kalau akan menggunakan alat pengeras suara.
d.
Perlu
dibuat garis besar bahan yang akan diceramahkan, minimal berupa catatan kecil
yang akan dijadikan pegangan guru pada waktu berceramah.
Adapun hal-hal
yang perlu diperhatikan guru pada waktu mengajar dengan menggunakan metode
ceramah adalah sebagai berikut.
a)
Guru
akan menjadi satu-satunya pusat perhatian. Oleh karena[10] itu
sebelum memulai ceramahperlu mengoreksi diri, antara lain berkaitan dengan
pakaian, cara berpakaian, make-up dan lain-lain.
b)
Untuk
mengarahkan perhatian peserta didik, ceramah sebaikya dimulai dengan
menyampaikan tujuan pengajaran yang akan dicapai setelah kegiatan pembelajaran.
c)
Sampaikan
garis besar bahan ajar, baik secara lisan maupun tertulis.
d)
Hubungkan
materi pelajaran yang akan disampaikan dengan pengetahuan dan pengalaman yang
telah diperoleh para peserta didik.
e)
Mulailah dari hal-hal yang umum menuju hal-hal yang
khusus, dari hal-hal yang sederhana menuju hal-hal yang rumit.
f)
Selingilah
dengan contoh-contoh yang erat kaitannya dengan kehidupan peserta didik,
sekali-kali lakukanlah humor yang menunjang pembelajaran.
g)
Arahkan
perhatian pada seluruh peserta didik dan jangan melakukan gerakan-gerakan yang
bisa mengganggu kelancaran pembelajaran.
h)
Gunakanlah
alat peraga/media yang sesuai dengan bahan yang diceramahkan.
i)
Kontrollah
agar pembicaraan tidak monoton, lakukanlah penekanan-penekanan pada materi
tertentu.
Akhiri ceramah
dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menanyakan hal-hal yang
belum jelas, buatlah kesimpulan dan penilaian, baik secara lisan maupun
tertulis. Apabila dipandang perlu, terutama untuk mendalami materi pelajaran bisa
diberikan tugas/pekerjaan rumah, baik secara individu maupun kelompok.
10)
Metode Tanya Jawab
Pendekatan dalam mengajar umumnya menempuh dua
macam cara, yaitu memberikan stimulasidan mengadakan pengarahan aktivitas
belajar. Banyak yang dapat kita bicarakan mengenai teknik mengajar yang baik,
antara lain teknik bertanya. Pertanyaan adalah pembangkit motivasi yang dapat
merangsang peserta didik untuk berpikir. Melalui pertanyaan peserta didik
didorong untuk mencari dan menemukan jawaban yang tepat dan memuaskan. Dalam
mencari dan menemukan itu ia berpikir menghubung-hubungkan bagian pengetahuan
yang ada pada dirinya dengan isi pertanyaan itu. Jawaban yang dapat segera
diperoleh jika isi pertanyaan banyak kaitannya dengan pengetahuan yang ada pada
dirinya. Jika jawaban yang diminta belum siap dimilikinya, maka hal ini
mendorong untuk menemukannya. Ia akan menjelajahidata-data jawaban melalui
berbagai cara yang tepat.
Proses yang
dilakukan adalah dengan membaca, meneliti atau diskusi. Membaca informasi dari
berbagai sumber adalah salah satu teknik untuk menemukan jawaban. Penelitian di
laboratorium, di lapangan, di musim, atau di tempat-tempat sumber belajar
lainnya juga merupakan cara untuk[11]
menemukan jawaban. Jika pencarian jawaban dilakukan melalui penelitian atau
membaca informasi atau berbagai sumber sebanyak-banyaknya maka guru telah
berhasil menciptakan suasanabelajar yang baik. Kegiatan belajar seperti itu
sangat membantu dalam membina menusia seutuhnya.
11)
Metode Diskusi
Diskusi ialah percakapan ilmiah yang
responsive berisikan pertukaran pendapat yang dijalin dengan
pertanyaan-pertanyaan problematis pemunculan ide-ide dan pengujian ide-ide
ataupun pendapat dilakukan oleh beberapa orang yang tergabung dalam kelompok itu yang diarahkan untuk
memperoleh pemecahan masalahnya dan untuk mencari kebenaran. Dalam diskusi
selalu ada suatu pokok yang dibicarakan. Dalam percakapan itu diharapkan para
pembicara tidak menyimpang dari poko pembicaraan. Mereka harus selalu
senantiasa kembali kepada pokok masalahnya. Pada hakikatnya diskusi berbeda
dengan percakapan, situasi lebih santai kadang diselingi dengan humor. Dalam
diskusi, semua anggota turut berpikir dan diperlukan disiplin yang ketat.
Manfaat diskusi
antara lain adalah sebagai berikut:
a)
Peserta
didik memperoleh kesempatan untuk berpikir
b)
Peserta
didik mendapat pelatihan mengeluarkan pendapat, sikap dan aspirasinya secara
bebas
c)
Peserta
didik belajar bersikap toleran terhadap teman-temannya
d)
Peserta
didik dapat menumbuhkan partisipasi aktif dikalangan peserta didik
e)
Diskusi
dapat mengembangkan sikap demokratif, dapat menghargai pendapat orang lain
f)
Dengan
diskusi pelajaran menjadi relevan dengan kebutuhan masyarakat.[12]
3.
Penyajian Materi/Bahan Ajar
Bahan atau materi pelajaran (learning materials) adalah
segala sesuatu yang menjadi isi kurikulum yang harus dikuasai oleh siswa sesuai
dengan kompetensi dasar dalam rangka pencapaian standar kompetensi setiap mata
pelajaran dalam satuan pendidikan tertentu. Materi pelajaran merupakan bagian
terpenting dalam proses pembelajaran, bahkan dalam proses yang berpusat pada
materi pelajaran (subject-centered teaching), materi pelajaran merupakan
inti dari kegiatan pembelajaran.[13]
Ditinjau dari beberapa pihak guru, materi pembelajaran itu harus
diajarkan atau di sampaikan dalam kegiatan pembelajaran. Ditinjau dari pihak
siswa bahan ajar itu harus dipelajari siswa ddalam rangka menapai standar
kompetensi dan kompetensi dasar yang akan dinilai dengan menggunakan instrument
penilaian yang disusun berdasar indicator pencapaian belajar.
Ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam penyusunan bahan
ajar atau materi pembelajaran. Prinsip-prinsip dalam pemilihan materi
pembelajaran meliputi prinsip relevansi, konsistensi dan kecukupan.
Prinsip relevansi artinya keterkaitan. Materi pembelajaran
hendaknya relevan atau ada kaitan atau ada hubungannya dengan pencapaian
standar kompetensi dan kompetensi dasar. Sebagai misal, jika kompetensi yang
diharapkan dikuasai siswa berupa menghafal fakta, maka materi pembelajaran yang
diajarkan harus berupa fakta atau bahan hafalan.
Prinsip konsistensi artinya keajegan. Jika kompetensi dasar yang
harus dikuasai siswa empat macam, maka bahan ajar yang harus diajarkan juga
harus meliputi empat macam. Misalnya kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa
adalah pengoperasian bilangan yag meliputi penambahan, pengurangan, perkalian,
dan pembagian, maka materi yang diajarkan juga harus meliputi teknik
penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian.[14]
Prinsip kecukupan artinya materi yang diajarkan hendaknya cukup
memadai dalam membantu siswa menguasai kompetensi dasar yang diajarkan. Materi
tidak boleh terlalu sedikit, dan tidak boleh terlalu banyak. Jika terlalu
sedikit aka kurang membantu mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar.
Sebaliknya, jika terlalu banyak akan membuang- buang waktu dan tenaga yang
tidak perlu untuk mempelajarinya.
Sebelum melaksanakan pemilihan bahan ajar, terlebih dahulu perlu
diketahui Kriteria pemilihan bahan ajar. Kriteria pokok pemilihan bahan ajar
atau materi pembelajaran adalah standar kompetensi dan kompetensi dasar. Hal
ini berarti bahwa materi pembelajaran yang dipilih untuk diajarkan oleh guru di
satu pihak dan harus dipelajari siswa di lain pihak hendaknya berisikan materi
atau bahan ajar yang benar-benar menunjang tercapainya standar kompetensi dan
kompetensi dasar. Dengan kata lain, pemilihan bahan ajar haruslah mengacu atau
merujuk pada standar komptensi.
Setelah diketahui criteria pemilihan bahan ajar, sampailah kita
pada langkah-langkah pemilihan bahan ajar. Secara garis besar langkah-langkah
pemilihan bahan ajar meliputi pertama-tama mengidentifikasi aspek-aspek yang
terdapat dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar yang menjadi acuan atau
rujukan pemilihan bahan ajar. Langkah berikutnya adalah mengidentifikasi jenis-jenis
materi bahan ajar. Langkah ketiga memilih bahan ajar yang sesuai atau relevan
dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah teridentifikasi tadi.
Terakhir adalah memilih sumber bahan ajar.[15]
C.
Hakikat Motivasi
belajar
a.
Pengertian Motivasi
Sering kita mendengar bahwa prestasi belajar peserta didik rendah
karena salah satu alasan, yaitu motivasi yang rendah. Motivasi bisa menjadi
hambatan bagi peserta didik untuk meraih kesuksesan baik dalam belajar maupun
dalam kehidupan. Begitu pentingnya motivasi bagi seseorang untuk melakukan dan
mencapai sesuatu maka diperlukan upaya untuk tetap menjaga motivasi agar tetap
stabil atau bahkan sebisa mungkin dapat ditingkatkan.[16]
Jika seseorang termotivasi dalam melakukan sesuatu maka dia akan
seperti mempunyai energy tersendiri yang mengalir di tubuhnya. Energy tersebut
sepertinya datang tanpa kita tahu dari mana asalnya dan berapa lama akan habis
jika digunakan. Jika motivasi yang tinggi dimiliki oleh peserta didik dalam
belajar maka akan menyebabkan suatu perubahan yang luar biasa.
Beberapa pendapat tentang definisi motivasi yang ditulis oleh
haryanto adalah sebagai berikut.
a.
Mc
Donald
Menurut Mc Donald, Motivasi adalah perubahan energi dalam diri
seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai
tujuan. Definisi tersebut menunjukan bahwa motivasi merupakan sesuatu yang
kompleks.
b.
Thomas
L. Good dan Jere B. Braphy
Motivasi sebagai suatu energy penggerak dan pengarah, yang dapat
memperkuat dan mendorong seseorang untuk bertingkah laku. Berdasarkan definisi
tersebut, dapat diketahui bahwa seseorang melakukan[17]
sesuatu tergantung dan motivasi yang dimilikinya.
c.
Siti
Sumarni
Motivasi secara harfiah adalah dorongan yang timbul pada diri
seseorang secara sadar, atau tidak sadar, untuk melakukan suatu tindakan dengan
tujuan tertentu. Sementara itu secara psikologis, berarti usaha yang dapat menyebabkan sesorang atau kelompok
orang tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendakinya,
atau mendapat kepuasan dengan perbuatannya.
Dari beberapa definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa motivasi
merupakan keseluruhan daya penggerak, baik dari dalam diri maupun dari luar
dengan menciptakan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu
yang menjamin kelangsungan dan memberikan arah pada kegitan sehingga tujuan
yang dikehendaki oleh subjek itu dapat tercapai.
Kita lebih sering mengenal definisi belajar sebagai proses
penambahan pengetahuan. Definisi tersebut sepertinya merupakan pandangan lama
dan mempunyai cakupan yang sempit. Pandangan tersebut seolah-olah hanya
menggambarkan bahwa proses belajar hanya merupakan penjejakan ilmu pengetahuan
pada peserta didik. Sebenarnya, hal ini tidak sepenuhnya salah karena pada
kenyataannya belajar itu menambah pengetahuan bagi peserta didik.[18]
b.
Pentingnya Motivasi Belajar
Motivasi mempunyai
peran penting dalam kgiatan belajar. Dimana motivasi adalah tenaga yang
menggerakkan dan mengarahkan aktivitas seseorang.[19]
Berbagai komponen yang terdapat dalam kegiatan pembelajaran khususnya guru dan
peserta didik, akan dapat bekerja maksimal bila ada sesuatu yang mendorong
mereka untuk melakukan hal tersebut, yaitu motivasi. Karena dalam hal ini,
sudah seharusnya kegiatan pembelajaran yang dilakukan berpusat pada peserta
didik. Peserta didik harus mempunyai motivasi agar mampu mengikuti kegiatan
pembelajaran dan berhasil mencapai kompotensi tertentu.
Motivasi tersebut bisa merupakan motivasi instrinsik dan
ekstrinsik. Motivasi instrinsik adalah motivasi yang berasal dari dalam diri
peserta didik itu sendiri. Motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang datangnya
dari luar, misalnya guru, orang tua, lingkungan belajar dan lain sebagainya.
Baik motivasi intrinsik dan ekstrinsik keduanya mempunyai peran tersendiri
dalam pencapaian prestasi belajar peserta didik.
Motivasi intrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau
berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri setiap
individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Sebagai contoh seseorang
ynag senang membaca, tidak usah ada yang menyuruh atau mendorongnya, ia sudah[20]
rajin mencari buku-buku untuk dibacanya. Kemudia kalau dilihat dari segi tujuan
kegiatan yang dilakukannya (misalnya kegiatan
belajar), maka yang dimaksud dengan motivasi intrinsic ini adalah ingin
mencapai tujuan yang terkandung di dalam perbuatan belajar itu sendiri.
Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan[21]
berfungsinya karena adanya perangsang dari luar. Sebagai contoh seseorang itu
belajar, karena tahu besok paginya akan ujian dengan harapan mendapatkan nilai
baik, sehingga akan dipuji oleh pacarnya, atau temannya. Jadi yang penting
bukan karena belajar ingin mengetahui sesuatu, tetapi ingin mendapatkan nilai
yang baik, atau agar mendapat hadiah. Jadi kalau dilihat dari segi tujuan
kegiatan yang dilakukannya, tidak secara langsung bergayut dengan esensi yang
apa yang dilakukannya itu. Oleh karena itu, motivasi ekstrinsik apat juga
dikatakan sebagai bentuk motivasi yang di dalamnya aktivitas belajar dimulai
dan diteruskan berdasarkan dorongan dari luar yang tidak secara mutlak
berkaitan dengan aktivitas belajar.[22]
Motivasi belajar penting bagi siswa dan guru. Bagi siswa pentingnya
motivasi belajar adalah sebagai berikut:
a.
Menyadarkan
kedudukan pada awal belajar, proses dan hasil akhir, contonya: setelah siswa
membaca suatu bab buku bacaan, dibandingkan dengan temannya sekelas yang juga
bab tersebut, ia kurang berhasil menangkap isi, maka ia terdorong membaca lagi.
b.
Menginformasikan
tentang kekuatan usaha belajar yang dibandingkan dengan teman sebaya, sebagai
ilustrasi jika terbukti usaha belajar seorang siswa belum memadai maka ia
berusaha maka ia berusaha setekun temannya yang belajar dan berhasil.
c.
Mengarahkan
kegiatan belajar, sebagai ilustrasi setelah ia ketahui bahwa dirinya belum belajar
secara serius, seperti bersenda gurau di dalam kelas maka ia akan merubah
perilaku belajarnya.
d.
Membesarkan
semangat belajar, contoh seorang anak yang telah menghabiskan banyak dana untuk
sekolahnya dan masiih ada adik yang di biayai orang tuamaka ia kan berusaha
agar cepat lulus.
e.
Menyadarkan
tentang adanya perjalanan belajar dan kemudian bekerja, siswa dilatih untuk
menggunakan kekuatannya sehingga dapat berhasil. Sebagai ilustrasi, stiap hari
siswa di harapkan untuk belajar di rumah, membantu orang tua dan bermain dengan
temannya. Apa yang di lakukan di harapkan daapat berhasil memuaskan.
Motivasi belajar juga penting di ketahui oleh seorang guru.
Pengetahuan dan pemahaman tentang motivasi belajar pada siswa bermanfaat bagi
guru, manfaat itu sendiri sebagai berikut.
a.
Membangkitkan
, meningkatkan, dan memelihara semangat siswa, dalam hal ini pujian, hadiah,
dorongan, atau pemicu semangat dapat di gunakan untuk mengobarkan semnagat
belajar.
b.
Mengetahui
dan memahami motivasi belajar siswa di kelas yang bermacam-macam sehingga
dengna bermacamnya motivasi tersebut di harapkan guru dapat menggunakan
bermacam-macam strategi belajar mengajar.
c.
Meningkatkan
dan menyadarkan guru untuk memilih satu diantara bermacam-macam peran seperti
sebagai penasihat, fasilitator, instruktur, teman diskudi dan penyemangat.[23]
c.
Upaya guru dalam meningkatkan motivasi belajar siswa
Meningkatkan motivasi belajar siswa adalah salah satu kegiatan
integral yang wajib ada dalam kegiatan pembelajaran. Selain memberikan dan
mentransfer ilmu pengetahuan guru juga bertugas untuk meningkatkan motivasi
anak dalam belajar. Tidak bisa kita pungkiri bahwa motivasi belajar siswa satu
dengan yang lain sangat berbeda, untuk itulah penting bagi guru selalu
senantiasa memberikan motivasi kepada siswa supaya siswa senantiasa memiliki
semangat belajar dan mampu menjadi siswa yang berprestasi serta dapat
mengembangkan diri secara optimal. Proses pembelajaran akan berhasil manakala
siswa mempunyai otivasi dalam belajar. Untuk memperoleh hasil belajar yang optimal,
guru dituntut kreatif membangkitkan motivasi belajar siswa. Berikut ini
dikemukakan beberapa petunjuk untuk meningkatkan motivasi belajar siswa.
a.
Memperjelas
tujuan yang ingin dicapai
Tujuan ynag jelas dapat membuat siswa paham kearah mana ia ingin dibawa.
Pemahaman siswa terhadap tujuan pembelajaran dapat menumbuhkan[24]
minat siswa untuk belajar yang pada gilirannya dapat meningkatkan motivasi
belajar mereka. Semakin jelas tujuan yang ingin dicapai, maka akan semakin kuat
motivasi belajar siswa. Oleh sebab itu, sebelum proses pembelajaran dimulai
hendaknya guru menjelaskan terlebih dahulu tujuan yang ingin dicapai.
b.
Membangkitkan
minat siswa
Siswa akan terdorong untuk belajar manakala mereka memiliki minat
untuk belajar. Oleh karena itu, mengembangkan minat belajar siswa merupakan
salah satu teknik dalam mengembangkan motivasi belajar. Salah satu cara yang
logis untuk memotivasi siswa dalam pembelajaran adalah mengaitkan pengalaman
belajar dengan minat siswa. Pengaitan pembelajaran dengan minat ssiswa adalah
sanagt penting, dank arena itu tunjukkanlah bahwa penngetahuan yang dipelajari
itu sangat bermanfaat bagi mereka.
c.
Ciptakan
suasana yang menyenangkan dalam belajar.
Siswa hanaya mungkin dapat belajar baik manakala ada dalam suasana
yang menyenangkan, merasa aman, bebas dari takut. Usahakan agar kelas selamanya dala suasana hidup segar, terbebas
dari rasa tegang. Untuk itu guru sekali-kali dapat melakukan hal-hal yang lucu.
d.
Menggunakan
variasi metode penyajian yang menarik.
Guru harus mampu menyjikan informasi dengan menarik, dan asing bagi
siswa-siswa. Seuatu informasi yang disampaikan dengan teknik yang baru, dengan
kemasan yang bagus didukung oleh alat-alat berupa sarana atau media yang belum
pernah dikenal oleh siswa sebelumnya sehingga menarik perhatian bagi mereka
untuk belajar. Dengan pembelajaran yang menarik, maka akan membangkitkan rasa
ingin tahu siswa di dalam kegiatan pembelajaran yang selanjutnya siswa akakn
termotivasi dalam pembelajaran.[25]
e.
Berilah
pujian yang wajar setiap keberhasilan siswa
Motivasi akan tumbuh manakala siswa merasa dihargai. Dalam
pembelajaran, pujian dapat dimanfaatkan sebagai alat motivasi. Karena anak
didik juga manusia, maka dia juga senang dipuji. Karena pujian menimbulkan rasa
puas dan senang. Namun begitu, pujian harus sesuai dengan hasil kerja siswa.
Jangan memuji secara berlebihan karena akan terkesan dibuat-buat. Pujian
yang baik adalah pujian yang keluar dari
hati seorang guru secara wajar dengan maksud untuk memberikan pengahargaan
kepada siswa atas jerih payahnya dalam belajar.
f.
Berikan
penilaian
Banyak siswa yang belajar karena ingin memperoleh nilai bagus.
Untuk itu mereka belajar dengan giat. Bagi sebagian siswa nilai dapat menjadi
motivasi yang kaut untuk belajar. Oleh karena itu, penilaian harus dilakukan dengan
segera agar siswa secepat mungkin mengetahui hasil kerjanya. Penilaian harus
dilakukan secar objektif sesuai dengan kemampuan siswa masing-masing.
Penialian secara terus menerus akan mendorong siswa belajar, oleh
karena setiap anak memiliki kecenderungan untuk memperoleh hasil yang baik.
Disamping itu, para siswa selalu mendapat tantangan dan masalah yang harus
dihadapi dan dipecahkan, sehingga mendorongnya belajar lebih teliti dan
seksama.
g.
Berilah
komentar terhadap hasil pekerjaan siswa
Siswa butuh penghargaan. Penghargaan bisa dilakukan dengan
memberikan komentar positif. Setelah siswa selesai mengerjakakn suatu tugas,
sebaiknya berikan komentar secepatnay, misalnya dengan memberikan tulisan
“bagus” atau “teruskan pekerjaanmu” dan lain sebagainya. Komentar yang positif
dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.
Penghargaan sangat efektif untuk memotivasi siswa dalam mengerjakan
tugas-tugas, baik tugas-tugas yang harus dikerjakan segera, maupun tugas-tugas
yang berlangsung terus menerus. Sebaliknya pemberian celaan kuang menumbuhkan
motivasi dalam belajar. Bahkan menimbulkan efek psikologis yang lebih jelek.
h.
Ciptakan
persaingan dan kerjasama.
Persaingan yang sehat dapat menumbuhkan pengaruh yang baik untuk keberhasilan proses pembelajaran
siswa. Melalui persaingan siswa dimungkinkan berusaha dengan sungguh-sungguh
untuk memperoleh hasil yang terbaik.[26]
[1] Siti Asia
T.Pido, Kinerja Guru Tersertifikasi, (Gorontalo: Sultan Amai Press,
2015), Cet. Ke-1, h. 65
[2] Ibid, h. 66
[3] Ibid, h. 68
[4] Fitrawati
Sino, skripsi Kompetensi Profesional Guru dalam Mengembangkan Kreativitas anak
di TK Bina Karya Kec. Popayato Kab. Pohuwato, (Gorontalo: 2011), h. 11
[5] Martinis
Yamin, Profesionalisasi Guru dan Implementasi KTSP, (Jakarta: Gaung
Persada Press, 2007), Cet. Ke-2, h. 5-7
[6] Kunandar, Guru
Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan
Persiapan Menghadapi Sertifikasi Guru, (Jakarta: Raja Grafindo Persada,
2007), Cet. Ke-1. h. 47
[7] Andi Prastowo,
Pengembangan Bahan Ajar Tematik: Panduan Lengkap Aplikatif, (Jogjakarta:
Diva Press, 2013), h. 69
[8] E. Mulyasa, Menjadi
Guru PROFESIONAL: Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan,
(Bandung: Remaja Rosdakarya, 2013), Cet. Ke-12, h. 107-113
[9] Syaiful
Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran: Untuk Membantu Memecahkan
Problematika Belajar dan Mengajar, (Bandung: Alfabeta, 2011), Cet. Ke-9, h.
201
[10] E. Mulyasa, Op.Cit, h. 114
[11] Syaiful
Sagala, Op.Cit, h. 203
[12] Syaiful
Sagala, Ibid, h. 208
[13] Wina Sanjaya, Perencanaan
dan Desain Sistem Pembelajaran, (Bandung: Kencana, 2008), h. 141
[14] Abdul Rahmat, Belajar
dan Pembelajaran: menciptakan Sorga-Sorga Kecil di Kelas dan di Kehidupan, (Gorontalo:
Ideas Publishing, 2015), h. 75
[15] Ibid, h. 76
[16] Erwin
Widiasworo, 19 Kiat Sukses Membangkitkan Motivasi Belajar Peserta Didik,
(Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2015), Cet. Ke-1, h. 14
[17] Ibid, h. 15
[18] Ibid, h. 16
[19] Hamzah B.Uno
& Abdul Karim Rauf, Desain Pembelajaran, (Gorontalo: Sultan Amai
Press, 2008), Cet. Ke-1, h. 108
[20] Sardiman, Interaksi
& Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2011), h.
89
[21]Ibid, h. 90
[22] Ibid, h. 91
[23] Suppiah, Pengantar
Psikologi Pendidikan, (Gorontalo: Sultan Amai Press, 2015), h. 131-132
[24]Ibid, h. 137
[25]Ibid, h. 138
[26] Ibid, h. 139
Tidak ada komentar:
Posting Komentar