Senin, 12 Maret 2018

Kompetensi Profesional Guru Al-Qur’an Hadis Dalam Memilih Metode Dan Penyajian Materi Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Peserta Didik Di Mi Al-Khairaat Kota Gorontalo


BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang Masalah
Guru merupakan salah satu faktor penting dalam proses pembelajaran. Bagaimanapun idealnya suatu kurikulum tanpa di tunjang oleh kemampuan guru untuk mengimplementasikannya, maka kurikulum itu tidak akan bermakna sebagai suatu alat pendidikan.[1] Peranan guru sangat signifikan dalam usaha peningkatan mutu pendidikan. Untuk itu guru dituntut memiliki kompetensi dalam menyelenggarakan proses pembelajaran dengan sebaik-baiknya.
Hal ini sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang RI Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen yang menyatakan bahwa:
Guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Selanjutnya Mendiknas RI melalui Permen Nomor 16 Tahun 2007 menetapkan Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru.[2]
Kompetensi merupakan kemampuan seseorang guru dalam melaksankan kewajiban-kewajiban secara bertanggung jawab dan layak. Kompetensi yang dimiliki oleh setiap guru akan menunjukkan kualitas guru dalam mengajar. Kompetensi


tersebut akan terwujud dalam penguasaan  pengetahuan  dan profesional dalam menjalankan fungsinya sebagai guru.[3]
Pemerintah dalam kebijakan pendidikan nasional telah merumuskan empat kompetensi guru, hal tersebut tercantum dalam penjelasan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, social, dan professional.[4]
a.       Kompetensi Pedagogik
Kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap siswa, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan siswa untuk mengaktualisasikan potensi yang dimilikinya.
b.      Kompetensi Kepribadian
Kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, stabil dan dewasa, arif dan berwibawa, menjadi teladan bagi siswa, dan berakhlak mulia.
c.       Kompetensi Profesional
Kompetensi Profesional adalah kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan membimbing siswa memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam SNP.
d.      Kompetensi sosial
Kompetensi sosial adalah kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan  bergaul secara efektif dengan siswa, sesame pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/walli siswa, dan masyarakat sekitar.[5]
Dalam  tulisan  ini,  hanya  akan  disoroti  salah  satu  jenis  kompetensi  saja yakni kompetensi Profesional. Penelitian ini sama sekali tidak bermaksud untuk mengesampingkan  pentingnya  ketiga  kompetensi  lainnya.  Tetapi,  hanya bermaksud mengungkapkan dan menonjolkan satu jenis kompetensi saja secara khusus dan berusaha meninjaunya lebih dalam secara komprehensif.
Guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi siswa pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan menengah. Orang yang disebut guru adalah orang yang memiliki kemampuan merancang program pembelajaran, serta mampu menata dan mengelola kelas agar siswa dapat belajar dan pada akhirnya dapat mencapai tingkat kedewasan sebagai tujuan akhir dari proses pendidikan.[6]
Pembelajaran Al-Qur’an Hadits merupakan kegiatan yang dipilih pengajar dalam proses pembelajaran, supaya proses pembelajaran Al-Qur’an Hadits berlangsung dengan baik perlu diatur metodenya. Penggunaan metode sangat mempengaruhi proses pembelajaran Al-Qur’an Hadits, oleh karena  itu seorang guru hendaklah menggunakan metode yang baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran Al-Qur’an Hadits. Penggunaan metode yang sesuai akan mendukung tercapainya tujuan sebagaimana yang diharapkan, akan tetapi penggunaan metode yang tidak sesuai dengan bahan pelajaran dapat menyebabkan kesulitan bagi siswa dalam mencerna pelajaran yang telah disampaikan oleh guru sehingga tujuan yang ingin dicapai tidak sempurna sebagaimana yang di inginkan.[7]
Dalam pendidikan guru mampu menetapkan berbagai pendekatan, strategi, metode, dan teknik pembelajaran yang mendidik secara kreatif sesuai dengan standar kompetensi guru. Guru menyesuaikan metode pembelajaran supaya sesuai dengan karakteristik peserta didik dan memotivasi mereka untuk belajar.[8]
Dalam proses penilaian kompetensi penguasaan materi, kemampuan yang dinilai adalah bagaimana rancangan materi dan kegitan pembelajaran, penyajian materi baru dan respon guru terhadap peserta didik memuat informasi pelajaran yang tepat dan mutakhir. Pengetahuan ini ditampilkan sesuai dengan usia dan tingkat pembelajaran peserta didik. Guru benar-benar memahami mata pelajaran dan bagaimana mata pelajaran tersebut di sajikan di dalam kurikulum. Guru dapat mengatur, menyesuaikan dan menambah aktivitas untuk membantu peserta didik menguasai aspek-aspek penting dari suaatu pelajaran dan meningkatkan minat dan perhatian didik terhadap pelajaran.[9]
Salah satu faktor yang menentukan berhasil tidaknya siswa dalam proses belajar yang sekaligus mempengaruhi proses belajar mengajar adalah motivasi belajar. Dalam kegiatan belajar, motivasi merupakan keseluruhan penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar.
Motivasi mempunyai peranan penting dalam proses belajar mengajar, baik bagi guru maupun siswa. Bagi guru megetahui motivasi belajar dari siswa sangat diperlukan guna memelihara dan meningkatkan semangat belajar siswa. Sedangkan bagi siswa motivasi belajar dapat menumbuhkan semangat belajar sehingga siswa terdorong untuk melakukan kegiatan belajar[10]
Berdasarkan hasil observasi yang saya lakukan di sekolah MI Al-Khairaat Kota Gorontalo, ternyata guru menemukan masalah-masalah dalam proses belajar mengajar. Salah satu dari masalah tersebut yaitu ketika guru kesulitan dalam memilih metode yang sesuai dan tentunya bisa memotivasi siswa untuk semangat dalam mengikuti proses belajar mengajar. Dan pada saat proses pembelajaran berlangsung guru tersebut kelihatannya belum menguasai materi, karena beliau masih melihat di buku. Dan juga, kurangnya semangat peserta didik dalam mengikuti pelajaran al-qur’an hadis. Hal ini di buktikan masih rendahnya kesadaran guru dalam memilih metode pembelajaran untuk membangkitkan semangat dan motivasi peserta didik supaya mereka senang mengikuti pelajaran al-qur’an hadis.[11]
Oleh karena itu, peneliti memilih judul Kompetensi Profesional Guru Al-Qur’an Hadis Dalam Memilih Metode Dan Penyajian Materi Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Peserta Didik Di Mi Al-Khairaat Kota Gorontalo karena peneliti ingin mengetahui Apakah metode yang dipilih oleh guru dalam menyajikan materi tepat dan mampu meningkatkan motivasi belajar peserta didik di mi al-khairaat kota gorontalo.
B.     Fokus dan Subfokus
Berdasarkan latar belakang masalah, peneliti menetapkan fokus penelitian, yaitu Kompetensi Profesional Guru Al-Qur’an Hadis Dalam Memilih Metode Dan Penyajian Materi Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Peserta Didik Di Mi Al-Khairaat Kota Gorontalo.



C.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah dan focus penelitian, penulis dapat merumuskan permasalahan yang akan dikaji dalam skripsi ini, rumusan masalah tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana Kompetensi Profesional Guru Al-Qur’an Hadis Dalam Memilih Metode Dan Penyajian Materi Untuk Meningkatkan Motivasi Peserta Didik Di Mi Al-Khairaat Kota Gorontalo?
2.      Apakah metode yang dipilih oleh guru dalam penyajian materi dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik di mi al-khairaat kota gorontalo.?
D.    Manfaat Penelitian
Penelitian ini memiliki beberapa tujuan yang telah diuraikan sebelumnya dan dimaksudkan agar dapat memberikan manfaat bagi banyak pihak, baik secara teoritis maupu secara praktis.
1.      Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan memberi sumbangan kepada ilmu pendidikan, bermanfaat untuk menambah wacana, pengetahuan dan wawasan penulis tentan kompetensi professional guru al-qur’an hadis dalam memilih metode dan penyajian materi untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik.

2.      Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk beberapa pihak, diantaranya:
a.       Guru
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan untuk menambah pengetahuan dan pemahaman tentang kompetensi guru dalam rangka meningkatkan pengajarannya serta menjadi pendorong untuk selalu mengintropeksi diri dan memperbaiki kerjanya di MI Al-Khairaat Kota Gorontalo.
b.      Peserta didik
Hasil penelitian ini dimungkinkan  untuk dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami dan menyerap materi peljaran yang disampaikan oleh guru.
c.       Peneliti
Penelitian juga berguna bagi peneliti untuk menambah wawasan dan pengalaman sebelum terjun langsung sebagai guru professional.
E.     Kajian Relevan
Penelitian yang relevan adalah penelitian yang digunakan sebagai perbandingan untuk menghindari manipulasi terhadap sebuah karya ilmiah dan menguatkan bahwa penelitian yang penulis lakukan benar-banar belum diteliti oleh orang lain. Penelitian terdahulu yang relevan pernah dilakukan oleh orang lain, diantaranya sebagai berikut: Sumarni Otoluwa: Fakultas Tarbiyah dan Tadris  Jurusan Kependidikan Islam IAIN Sultan Amai Gorontalo, Tahun 2012 meneliti dengan judul Profesionalisme Guru Dalam Meningkatkan Kompetensi Pembelajaran Siswa Madrasah Anggrek Kabupaten Gorontalo Utara. Berdasarkan hasil penelitian, disimpulkan Profesionalisme guru dalam meningkatkan kompetensi belajar siswa mencakup; Pertama, guru telah menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu. Kedua, menguasai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran yangdiampu. Ketiga, mengembangkan materi pembelajaran yang diampu secara kreatif. Keempat, mengembangkakn keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif. Kelima, sebahagian besar guru yang ada memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk mengembangkan diri. Terdapat kendala dalam mningkatkan kompetensi belajar siswa diantaranya; minimnya sumber dan media pembelajaran, sarana dan prasarana  yang masih relative terbatas, keberadaan guru yang berstatus guru tidak tetap, minimnya anggaran yang ada. Adapun upaya mencakup; memperbaiki kemampuan serta kompetensi guru serta melakukan kerja sama dengan pihak pemerintah dan masyarakat.
Penelitian kedua yaitu di bahas oleh Sindita Hasan (IAIN Sultan Amai Gorontalo: 2016) yang bejudul Deskripsi  kompetensi profesional guru dalam pelaksanaan evaluasi pembelajaran PAI Akhir semester berbasis kurikulum 2013 di SMP negeri 11 Gorontalo memaparkan tentang hasil penelitian di temukan bahwa; pertama kommpetenssi professional guru sudah cukup baik dalam pelaksanaan evaluasi pemeblajaan hal ini  dapat dilihat dari kemampuan dan keahlian para guru pada saat melaksanakan evaluasi pembelajaran. Kedua memanfaatkan hasil evaluasi pembelajaran diantaranya untuk memberikan feedback (umpan balik) bagi penyempurnaan program pembelajaran, baik secara langsung maupun tidak langsung. Ketiga kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan evaluasi pelajaran PAI akhir semester berbasis kurikulum 2013; (1) guru mengalami kesulitan dalam memahami karakteristik peserta didik serta cara belajar yang berbeda-beda.
Berdasarkan penelitian-penelitian tersebut, terlihat bahwa adanya perbedaan fokus masalah yang akan diteliti oleh peneliti. Hal ini dapat di lihat dari tujuan penelitian sebelumnya yang telah di jelaskan, sedangkan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kompetensi profesional guru al-qur’an hadis dalam memilih metode dan penyajian materi untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik di MI Al-Khairaat Kota Gorontalo.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.    Hakikat Kompetensi Profesional Guru Al-Qur’an Hadis
1.   Definisi Kompetensi Profesional
Pengertian dasar kompetensi (competency) adalah kemampuanatau kecakapan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kompetensi berarti kewenangan/kekuasaan untuk menentukan (memutuskan sesuatu). Kompetensi merupakan perpaduan dari pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak.
Kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati dan dikuasai oleh guru dalam melaksanakan tugasnya. Kompetensi bermakna kewenangan dan kekuasaan untuk menentukan atau memutuskan sesuatu. Maksudnya bahwa, seseorang yang memiliki kompetensi berarti memiliki kewenangan dan tanggung jawab terhadap tugas yang diembannya, guru yang bekompetensi harus tetap menjaga eksistensinya dan menjaga wibawanya di hadapan siswa.
Menurut Mc. Ashan, kompetensi diartikan sebagai pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang dikuasai oleh seseorang yang telah menjadi bagian dari dirinya sehingga ia dapat melakukan perilaku-perilaku kognitif, afektif, dan psikomotorik  dengan sebaik-baiknya. Sedangkan menurut Yasin, kompetensi adalah serangkaian tindakan penuh rasa tanggung jawab yang dimiliki[1] oleh seseorang sebagai persyaratan untuk dapat dikatakan  berhasil dalam melaksanakan tugasnya.
Dari beberapa pendapat tersebut, maka jelas bahwa suatu kompetensi harus didukung oleh pengetahuan, sikap, dan apresiasi. Artinya, tanpa pengetahuan dan sikap, tidak mungkin muncul suatu kompetensi tertentu. Sehingga guru data dianggap berkompeten jika memiliki kemampuan, pengetahuan dan sikap yang mampu mendatangkan apresiasi bagi guru.
Kompetensi guru adalah salah satu faktor yang memengaruhi tercapainya pembelajaran  dan pendidikan di sekolah, namun kompetensi guru tidak berdiri sendiri, melainkan dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan, pengalaman mengajar, dan lamanya mengajar. Kompetensi guru dapat dinilai penting sebagai alat seleksi dalam penerimaan calon guru, juga dapat dijadikan  sebagai pedoman dalam rangka pembinaan dan pengembangan tenaga guru. Selain itu, kompetensi juga penting dalam hubungannya dengan  kegiatan pembelajaran dan hasil belajar siswa.
Dengan kompetensi profesional tersebut, dipastikan dapat berpengaruh pad proses pengelolaan pendidikan sehingga mampu melahirkan keluaran pendidikan yang bermutu. Keluaran pendidikan yang bermutu dapat dilihat dari hasil langsung pendidikan yang berupa nilai yang dicapi siswa dan dapat juga dilihat dari dampak pengiring, yaitu siswa setelah di masyarakat.
Kompetensi merupakan kemampuan seseorang guru dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban secara bertanggung jawab dan layak. Kompetensi yang dimiliki oleh setiap guru  akan menunjukan kualitas guru dalam mengajar. kompetensi tersebut akan terwujud dalam penguasaan pengetahuan dan profesional dalam menjalankan fungsinya sebagai guru.[2]
Tujuan kompetensi guru menurut Sardiman, diantaranya yaitu:
a.       Guru memiliki kemampuan pribadi. Maksudnya, guru diharakan mempunyai pengetahuan, kecakapan, dan keterampilan, serta sikap yang lebih mantap dan memadai sehingga mampu mengelola proses pembelajaan dengan baik.
b.      Agar guru menjadi innovator, yaitu tenaga kependidikan yang mampu komitmen terhadap upaya perubahan dan informasi ke arah yang lebih baik.
c.       Guru mampu menjadi developer, yaitu guru mempunyai visi keguruan yang mantap dan luas perspektifnya.
Menurut Muhammad Surya yang dikutip Ramayulis, sekurang-kurangnya ada empat kompetensi guru agama, yaitu:
1)         Menguasai substansi materi pembelajaran
2)         Menguasai metodologi mengajar
3)         Menguasai teknik evaluasi dengan baik
4)         Memahami, menghayai dan mengamalkan nilai-nilai moral dan kode etik profesi.[3]
Dalam pendidikan Islam, khususnya pada pembelajaran Al-qur’an Hadist, maka kualifkasi kompetensi guru harus relevan dengan pembelajaran tersebut. Hal ini dimaksudkan agar pebelajaran yang dilakukan dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan.
Allah swt, menerangkan di dalam Al-Qur’an tentang pentingnya kompetensi atau penguasaan pengetahuan dalam melaksanakan setiap profesi, sebagaimana firmannya dalam Q.S Ar-Rahman: 33 sebagai berikut
Terjemahnya:
“Hai jama'ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, Maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan (pengetahuan)” (Q.S Ar-Rahman: 33)
Mencermatai ayat tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa kompetensi guru dapat dikonotasikan dengan kekuatan. Dalam ayat tersebut disebutkan oleh Allah bahwa manusia tidak dapat mampu menembus penjuru langit dan bumi melainkan dengan kekuatan, artinya guru tidak akan dapat melaksanakan tugasnya profesinya sebagai guru apabila tidak memiliki sejumlah pengetahuan, dalam hal ini kompetensi.
Dengan demikian dapat dipahami bawa kompetensi pada hakekatnya merupakan kemampuan yang dimiliki guru, berupa ilmu pengetahuan agar dapat berhasil dalam melaksanakan tugasnya sebagai guru.[4]
2.   Kriteria Guru Profesional
Menjadi seorang guru bukanlah pekerjaan yang gampang, seperti yang dibayangkan sebagian orang, dengan bermodal penguasaan materi dan menyampaikannya kepada siswa sudah cukup, hal ini belumlah dapat diketagori sebagai guru yang memiliki pekerjaan professional, karena guru yang professional, mereka harus memiliki berbagai keterampilan, kemampuan khusus, mencintai pekerjaannya, menjaga kode etik guru, dan lain sebagainya.
Guru professional harus memiliki persyaratan, yang meliputi: (i) Memilliki bakat sebagai guru; (ii) Memiliki keahlian sebagai guru; (iii) memiliki keahlian yang baik dan teritegrasi; (iv) memiliki mental yang sehat, Berbadan sehat; (v) memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas; (vi) guru adalah manusia berjiwa pancasila; (vii) guru adalah seorang warga Negara yang baik.[5]
Kunandar mengemukakan bahwa suatu pekerjaan professional memerlukan persyaratan khusus, yakni (1) menurut adanya keterampilan berdasarkan konsep dan teori ilmu pengetahuan yang mendalam; (2) menekankan pada suatu keahlian dalam bidang tertentu sesuai dengan bidang profesinya; (3) menuntut adanya tingkat pendidikan yang memadai; (4) adanya kepekaan terhadap dampak kemasyarakatan dari pekerjaan yang dilaksanakannya; (5) memungkinkan perkembangan sejalan dengan dinamika kehidupan.
Guru yang professional akan tercermin dalam pelaksanaan pengabdian tugas-tugas yang ditandai dengan keahlian baik dalam materi maupun dalam metode. Selain itu, juga ditunjukan melalui tanggung jawabnya dalam melaksanakan seluruh pengabdiannya. Guru yang professional hendaknya mampu memikul dan melaksanakan tanggung jawab sebagai guru kepada peserta didik, orang tua, masyarakat, bangsa, negara, dan agamanya. Guru professional mempunyai tanggung jawab pribadi, social, intelektual, moral, dan spiritual.[6]


B.     Hakikat Metode dan Penyajian Materi/bahan ajar
1.      Pengertian Metode pembelajaran
Metode pembelajaran adalah cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan pembelajaran. Metode pembelajaran adalah cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan pembelajaran, sehingga kompetensi dan tujuan pembelajaran dapat  tercapai. Metode pembelajaran adalah cara yang digunakan guru untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untu mencapai tujuan pembelajaran.[7]
2.      Memilih metode pembelajaran yang efektif
Perkembangan mental peserta didik di sekolah, anatara lain meliputi kemampuan untuk bekerja secara abstraksi menuju konseptual. Implikasinya pada pembelajaran, harus memberikan pengalaman yang  bervariasi dengan metode yang efektif dan bervariasi. Pembelajaran harus memperhatikan minat dan kemampuan peserta didik.
Penggunaan metode yang tepat akan turut menentukan efektivitas dan efisiensi pembelajara. Pembelajaran perlu dilakukan dengan sedikit cerama dan metode yang berpusat pada guru, serta lebih menekankank pada interaksi peserta didik. Penggunaan metode yang bervariasi akan sangat membantu peserta didik dalam mencapai tujuan pembelajaran.
Pengalaman belajar di sekolah harus fleksibel dan tidak kaku, serta perlu menekankan ada kreativitas, rasa ingin tahu, bimbingan dan pengarahan kea rah kedewasaan. Sesuai dengan pendekatan seperti telah dibahas di atas, metode pembelajaran harus dipilih dan dikembangkakn untuk meningkatkan aktivitas dan kreativitas peserta didik. Berikut dikemukakan beberapa metode pemblajaran yang dapat dipilih oleh guru.
1)      Metode Demonstrasi
Melalui metode demonstrasi guru mepmperlihatkan suatu proses, peristiwa, atau cara kerja suatu alat kepada peserta didik. Demonstrasi dapat dilakukan dengan berbagai cara, dari yang sekedar memberikan pengetahuan yang sudah diterima begitu saja oleh peserta didik , sampai pada cara agar peserta didik dapat memecahkan suatu masalah.
Agar pemebalajaran dengan menggunakan metode demonstrasi berlangsung secara efektif, langkah-langkah yang dianjurkan adalah sebagai berikut.
a)      Lakukanlah perencanaan yang matang sebelum pembelajaran dimulai. Hal-hal tertentu perlu di persiapkan, terutama fasilitas yang akan digunakan untuk kepentingan demonstrasi.
b)      Rumuskanlah tujuan pembelajaran dengan metode demonstrasi, dan pilihlah materi yang tepat untuk didemonstrasikan .
c)      Buatlah garis besar langkah-langkah demonstrasi, akan lebih efektif jika yang dikuasai dan dipahami baik oleh peserta didik maupun oleh guru.
d)     Tetapkanlah apakah demonstrasi tersebut akan dilakukan guru atau oleh peserta didik, atau oleh guru kemudian diikuti peserta didik.
e)      Mulailah demonstrasi denga menarik perhatian seuruh peserta didik, dan ciptakanlah suasana yang tenang dan menyenangkan.
f)       Upayakanlah agar semua peserta didik terlibat secara aktif dalam kegiatan pembelajaran.
g)      Lakukanlah evaluasi terhadap pembelajaran yang telah dilaksanakan ,baik terhadap efektivitas metode demonstrasi maupun terhadap hasil belajar peserta didik.
Untuk memantapkan hasil pembelajaran melaui metode demonstrasi, pada akhir pertemuan dapat diberikan tugas-tugas yang sesuai dengan kegiatan yang telah dilaksanakan.
2)      Metode Inquiri
Inquiri berasal dari bahasa Inggris “inquiri”, yang secara harfiah berarti penyelidikan . Carin dan Sund mengemukakan bahwa inquiri adalah the process of investigating a problem. Adapun Piaget mengemukakan bahwa metode inquiri merupakan metode yang mempersiapkan peserta didik pada situasi untuk melakukan eksperimen sendiri secara luas agar melihat apa yang terjadi, ingin melakukan sesuatu, mengajukan pertanyaan-pertanyaan, dan mencari jawabannya sendiri, serta menghubungkakn penemuan yang satu dengan penemuan yang lain, membandingkan apa yang ditemukannya dengan yang ditemukan peserta didik lain.
Metode inquiri merupakan metode penyelidikan yang melibatkan proses mental dengan kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
a.       Mengajukan pertanyaan-pertanyan tentang fenomena alam
b.      Merumuskan masalah yang ditemukan
c.       Merumuskan hipotesis
d.      Merancang dan melakukan eksperimen
e.       Mengumpulkan dan menganalisis data
f.       Menarik kesimpulan mengembangkan sikap ilmiah, yakni: objektif, jujur, hasrat ingin tahu, terbuka, berkemauan, dan tanggung jawab.
Sund and Trowbridge (1973) mengemukakan tiga macam metode inquiri sebagai berikut
a)      Inquiri terpimpin (Guide inquiri); peserta didik memperoleh pedoman sesuai dengan yang dibutuhkan. Pedoman-pedoman tersebut biasanya berupa pertanyaan-pertanyaan yang membimbing. Pendekatan ini digunakan terutama bagi para peserta didik yang belum berpengalaman belajar dengan metode inquiri, dalam hal ini guru memberikan bimbingan dan pengarahan yang cukup luas. Pada tahap awal bimbingan lebih banyak diberikan, dan sedikit demi sedikit dikurangi, sesuai dengan perkembangan pengelaman peserta didik. Dalam pelaksanaannya sebagian besar perencanaan dibuat oleh guru. Peserta didik tidak merumuskan permasalahan. Petunjuk yang cukup luas tentang bagaimana menyusun dan mencatat data diberikan oleh guru.
b)      Inquiri bebas (free inquiri), pada inquiri bebas peserta didik melakukan penelitian sendiri bagaikan seorang ilmuan. Pada pengajaran ini peserta didik harus dapat mengidentifikasikan dan merumuskan berbagai topic permasalahn yang hendak diselidiki. Metodenya adalah inquiri role approach yang melibatkan peserta didik dalam kelompok tertentu, setiap anggota kelompok memiliki tugas sebagai, misalnya coordinator kelompok, pembimbing teknis, pencatatan data, dan pengevaluasi proses.
c)      Inquiri bebas yang dimodifikasi (modified free Inquiri); pada inquiri ini guru memberikan permasalahan atau problem dan kemudian peserta didik diminta untuk memecahkan permasalahan tersebut melalui pengamatan, eksplorasi dan prosedur penelitian.

3)      Metode Penemuan
Penemuan (discovery) merupakan metode yang lebih menekankan pada pengalaman langsung. Pembelajaran dengan metode penemuan lebih mengutamakan proses dari pada hasil belajar.
Cara mengajar dengan metode penemuan menempuh langkah-langkah berikut.
a.       Adanya masalah yang akan dipecahkan
b.      Sesuai dengan tingkat perkembangan koqnitif peserta didik.
c.       Konsep atau prinsip yang harus ditemukan oleh peserta didik melalui kegiatan tersebut perlu dikemukakan dan ditulis secara jelas.
d.      Harus tersedia alat dan bahan yang diperlukan
e.       Susunan kelas diatur sedemikian rupa sehingga memudahkan terlibatnya arus bebas pikiran peserta didik dalam kegiatan belajar-mengajar.
f.       Guru harus memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengumpulkan data.
g.      Guru harus memberikan jawaban dengan tepat dan tepat dengan data dan informasi yang diperlukan peserta didik.


4)      Metode Eksperimen
Metode eksperimen merupakan suatu bentuk pembelajaran yang melibatkan peserta didik bekerja dengan benda-benda, bahan-bahan dan peralatan laboratorium, baik secara perorangan maupun kelompok. Eksperimen merupakan situasi pemecahan masalah yang di dalamnya berlangsung pengujian suatu hipotesis, dan terdapat variable-variabel yang dikontrol secara ketat. Hal yang diteliti dalam suatu eksperimen adalah pengaruh variable tertentu terhadap variable lain.
Hal-hal yang perlu dipersiapkan guru dalam menggunakan metode eksperimen adalah sebagai berikut.
a)      Tetapkan tujuan eksperimen.
b)      Persiapkan alat dan atau bahan yang diperlukan.
c)      Persiapkan tempat eksperimen.
d)     Pertimbangkan jumlah peserta didik sesuai dengan alat-alat yang tersedia.
e)      Perhatikan keamanan dan kesehatan agar dapat memperkecil atau menghindarkan risiko yang merugikan atau berbahaya.
f)       Perhatikan disiplin atau tata tertib, terutama dalam menjaga peralatan dan bahan yang akan digunakan.
g)      Berikan penjelasan tentang apa yang harus diperhatikan dan tahapan-tahapan yang mesti dilakukan peserta didik, termasuk yang dilarang dan yang membahayakan.
5)      Metode Pemecahan Masalah
Menurut Gagne )1985), kalau seorang peserta didik dihadapkan pada suatu maasalah, pada akhirnya mereka bukan hanya sekedar memecahkan masalah, tetapi juga belajar suatu yang baru.
Pemecahan masala memegang peranan penting baik dalam pelajaran sains maupun dalam banyak disiplin ilmu lainnya, terutama agar pembelajaan berjalan dengan fleksibel.
Para ahli mengemukakan berbagai langkah dalam melakukan pemecahan masalah, tetapi pada hakikatnya cara yang dikemukakan adalah sama. Tetapi pada hakikatnya cara yang dikemukakan adalah sama. Davis dan Alexander (1974) mengemukakan langkah-langkah pemecahan masalah sebagai suatu seri, yang meliputi: sensing potensial problems, formulating problem, search for solution, trade-of among solution and initial selection, implementation and evaluation. Berdasarkan hal tersebut, pembelajaran dengan metode pemecahan masalah akan menempuh langkah-langkah sebagai berikut:
·         merasakan adanya masalah-masalah yang potensial.
·         Merumuskan masalah.
·         Mencari jalan keluar
·         Memilih jalan keluaryang paling tepat.
·         Melaksanakan pemecahan masalah.
·         Manila apakah pemecahan masalah yang dilakukan sudah tepat atau belum.
6)      Metode Karyawisata
Karyawisata merupakan suatu perjalan atau pesiar yang dilakukan oleh peserta didik untuk memperoleh pengalaman belajar, terutama pengalaman langsung dan merupakan bagian integral dari kurikulum sekolah. Meskipun karyawisata memiliki banyak hal yang bersifat nankademis, tujuan umum pendidikan dapat segera dicapai, terutama berkaitan dengan pengembangan wawasan pengalaman tentang dunia luar.
Sebelum karyawisata digunakan dan dikembangkan sebagai metode belajar-mengajar, hal-hal yang perlu dilakukan adalah.
a.       Menentukan sumber-sumber masyarakat sebagai sumber belajar-mengajar.
b.      Mengamati kesesuaian suber belajar dengan tujuan dan program sekolah.
c.       Menganalisis sumber belajar berdasarkan nilai-nilai pedagogies
d.      Menghubungkan sumber belajar dengan kurikulum, pakah sumber-sumber belajar dalam karyawisata menunjang dan sesuai dengan tuntutan kurikulum, jika ya, karyawisata dapat dilaksanakan.
e.       Membuat dan mengembangkan program karyawisata secara logis, dan sistematis.
f.       Melaksanakan karyawisata sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan, dengan memperhatikan tujuan pembelajaran materi pelajaran, efek instruksional dan pengiring, iklim yang kondusif.
g.      Menganalisis apakah tujuan karyawisata telah tercapai atau tidak, apakah terdapat kesulitan-kesulitan perjalanan atau kunjungan, memberikan surat ucapan terima kasih kepada mereka yang telah membantu, membuat laporan karyawisata dan catatan untuk bahan  karyawisata yang akan datang.
7)      Metode Perolehan Konsep
Belajar konsep merupakan hasil utama pendidikan, konsep-konsep merupakan batu-batu pembangun (Building Block) berpikir. Konsep-konsep merupakan dasar bagi proses-proses mental yang lebih tinggi untuk memasukan prinsip-prinsip dan generalisasi-generalisasi. Oleh karena itu, untuk memecahkan masalah, seorang peserta didik harus mamatuhi aturan-aturan antara yang selaras dan aturan-aturan ini didasarkan pada konsep-konsep yang diperolehnya.
Perolehan konsep menurut Ausubel (1968), diperoleh dengan dua cara, yaitu konnsep formasi dan konsep asimilasi. Konsep formasi terutama merupakan bentuk peroleh konsep sebelum peserta didik masuk sekolah. Konsep formasi dapat disamakan dengan belajar konsep kongkrit menurut Gagne (1977). Konsep asimilasi merupakan cara-cara untuk memperoleh konsep selama dan sesudah sekolah.
8)      Metode Penugasan
Metode penugasan merupakan cara penyajian bahan pelajaran. Pada metode ini guru memberikan seperangkat tugas yang harus dikerjakan peserta didik, baik secara individual maupun secara kelompok.
Agar metode penugasan dapat berlangsung secara efektif, guru perlu memperhatikan langkah-langkah sebagai berikut.
a.       Tugas harus direncanakan secara jelas dan sistematis , terutama tujuan penugasan dan cara pengerjaannya. Sebaiknya tujuan penugasan dikomunikasikan kepada peserta didik agar tahu arah tugas yang dikerjakan.
b.      Tugas yang diberikan harus dapat dipahami peserta didik, kapan mengerjakannya, bagaimana cara mengerjakannya, beerapa lama tugas tersebut harus dikerjakan, secara individu atau kelompok, dan lain-lain. Hal-hal tersebut akan sangat menentukan efektivitas penggunaan  metode penugasan dalam pembelajaran.
c.       Apabila tugas tersebut berupa tugas kelompok, perlu diupayakan agar seluruh anggota kelompok dapat terlibat secara aktif dalam proses penyelesaian tugas tersebut, terutama kalau tugas tersebut diselesaikan di luar kelas.
d.      Perlu diupayakan guru mengontrol proses penyelesaian tugas yang dikerjakan oleh peserta didik. Jika tugas tertsebut diselesaikan di kelas guru bisa berkeliling mengontrol pekerjaan peserta didik, sambil memberikan motivasi dan bimbingan terutama bagi peserta didik yang mendapat kesulitan dalam penyelesaian tugas tersebut. Jika tugas tersebut diselesaikan di luar kelas, guru bisa mengontrol proses penyelasaian tugas melalui konsultasi dari para peserta didik. Oleh karena itu,[8] dalam penugasan yang harus diselesaikan di luar kelas sebaiknya para peserta didik diminta untuk memberikan laporan kemajuan mengenai tugas yang dikerjakan.
e.       Berikanlah penilaian secara proporsional terhadap tugas-tugas yang dikerjakan peserta didik. Penilaian yang diberikan sebaiknya tidak hanya menitikberatkan pada produk, tetapi perlu dipertimbangkan pula bagaimana proses penyelesaian tugas tersebut. Penilaian hendaknya diberikan secara langsung setelah tugas diselesaikan, hal ini disamping akan mnimbulkan minat dan semangat belajar peserta didik, juga menghindarkan bertumpuknya pekerjaan peserta didik yang harus diperiksa.
9)      Metode Ceramah
Ceramah merupakan metode yang paling umum digunakan dalam pembelajaran. Pada metode ini, guru menyajikan bahan melalui penuturan atau penjelasan lisan secara langsung terhadap peserta didik.
Dalam pelaksanaan  ceramah untuk menjelaskan uraiannya, guru dapat menggunakan alat-alat bantu seperti gambar, dan Audio Visual lainnya. Ceramah adalah penuturan lisan dari guru kepada peserta didik, ceramah juga sebagai kegiatan memberikan informasi dengan kata-kata sering mengaburkan dan kadang-kadang ditafsirkan salah, kadang-kadang terjadi pula orang baru saja mengikuti ceramah, jika ditanya, tidak tahu apa-apa. Kemungkinan terjadinya hal ini adalah karena penceramahnya kurang pandai menyampaikan informasi dan mungkin pula karena khalayaknya bukan pendengar yang baik. Karena itu alat utama dalam metode ceramah ini adalah berhubungan dengan siswa menggunakan bahasa lisan.[9]
Hal-hal yang perlu dipersiapkan guru dalam menggunakan metode ceramahadalah sebagai berikut.
a.       Rumuskan tujuan instruksional khusus, mengembangkan pokok-pokok materi belajar-mengajar, dan mengkajinya apakah hal tersebut tepat diceramahkan.
b.      Apabila akan divariasikan dengan metode lain, perlu dipikirkan apa yang akan disampaikan melalui ceramah dan apa yang akan disampaikan dengan metode lainnya.
c.       Siapkan alat peraga atau media pelajaran secara matang, alat peraga atau media apa yang akan digunakan. Demikian halnya kalau akan menggunakan alat pengeras suara.
d.      Perlu dibuat garis besar bahan yang akan diceramahkan, minimal berupa catatan kecil yang akan dijadikan pegangan guru pada waktu berceramah.
Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan guru pada waktu mengajar dengan menggunakan metode ceramah adalah sebagai berikut.
a)      Guru akan menjadi satu-satunya pusat perhatian. Oleh karena[10] itu sebelum memulai ceramahperlu mengoreksi diri, antara lain berkaitan dengan pakaian, cara berpakaian, make-up dan lain-lain.
b)      Untuk mengarahkan perhatian peserta didik, ceramah sebaikya dimulai dengan menyampaikan tujuan pengajaran yang akan dicapai setelah kegiatan pembelajaran.
c)      Sampaikan garis besar bahan ajar, baik secara lisan maupun tertulis.
d)     Hubungkan materi pelajaran yang akan disampaikan dengan pengetahuan dan pengalaman yang telah diperoleh para peserta didik.
e)      Mulailah  dari hal-hal yang umum menuju hal-hal yang khusus, dari hal-hal yang sederhana menuju hal-hal yang rumit.
f)       Selingilah dengan contoh-contoh yang erat kaitannya dengan kehidupan peserta didik, sekali-kali lakukanlah humor yang menunjang pembelajaran.
g)      Arahkan perhatian pada seluruh peserta didik dan jangan melakukan gerakan-gerakan yang bisa mengganggu kelancaran pembelajaran.
h)      Gunakanlah alat peraga/media yang sesuai dengan bahan yang diceramahkan.
i)        Kontrollah agar pembicaraan tidak monoton, lakukanlah penekanan-penekanan pada materi tertentu.
Akhiri ceramah dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menanyakan hal-hal yang belum jelas, buatlah kesimpulan dan penilaian, baik secara lisan maupun tertulis. Apabila dipandang perlu, terutama untuk mendalami materi pelajaran bisa diberikan tugas/pekerjaan rumah, baik secara individu maupun kelompok.
10)     Metode Tanya Jawab
  Pendekatan dalam mengajar umumnya menempuh dua macam cara, yaitu memberikan stimulasidan mengadakan pengarahan aktivitas belajar. Banyak yang dapat kita bicarakan mengenai teknik mengajar yang baik, antara lain teknik bertanya. Pertanyaan adalah pembangkit motivasi yang dapat merangsang peserta didik untuk berpikir. Melalui pertanyaan peserta didik didorong untuk mencari dan menemukan jawaban yang tepat dan memuaskan. Dalam mencari dan menemukan itu ia berpikir menghubung-hubungkan bagian pengetahuan yang ada pada dirinya dengan isi pertanyaan itu. Jawaban yang dapat segera diperoleh jika isi pertanyaan banyak kaitannya dengan pengetahuan yang ada pada dirinya. Jika jawaban yang diminta belum siap dimilikinya, maka hal ini mendorong untuk menemukannya. Ia akan menjelajahidata-data jawaban melalui berbagai cara yang tepat.
Proses yang dilakukan adalah dengan membaca, meneliti atau diskusi. Membaca informasi dari berbagai sumber adalah salah satu teknik untuk menemukan jawaban. Penelitian di laboratorium, di lapangan, di musim, atau di tempat-tempat sumber belajar lainnya juga merupakan cara untuk[11] menemukan jawaban. Jika pencarian jawaban dilakukan melalui penelitian atau membaca informasi atau berbagai sumber sebanyak-banyaknya maka guru telah berhasil menciptakan suasanabelajar yang baik. Kegiatan belajar seperti itu sangat membantu dalam membina menusia seutuhnya.
11)  Metode Diskusi
  Diskusi ialah percakapan ilmiah yang responsive berisikan pertukaran pendapat yang dijalin dengan pertanyaan-pertanyaan problematis pemunculan ide-ide dan pengujian ide-ide ataupun pendapat dilakukan oleh beberapa orang yang tergabung  dalam kelompok itu yang diarahkan untuk memperoleh pemecahan masalahnya dan untuk mencari kebenaran. Dalam diskusi selalu ada suatu pokok yang dibicarakan. Dalam percakapan itu diharapkan para pembicara tidak menyimpang dari poko pembicaraan. Mereka harus selalu senantiasa kembali kepada pokok masalahnya. Pada hakikatnya diskusi berbeda dengan percakapan, situasi lebih santai kadang diselingi dengan humor. Dalam diskusi, semua anggota turut berpikir dan diperlukan disiplin yang ketat.
Manfaat diskusi antara lain adalah sebagai berikut:
a)         Peserta didik memperoleh kesempatan untuk berpikir
b)         Peserta didik mendapat pelatihan mengeluarkan pendapat, sikap dan aspirasinya secara bebas
c)         Peserta didik belajar bersikap toleran terhadap teman-temannya
d)        Peserta didik dapat menumbuhkan partisipasi aktif dikalangan peserta didik
e)         Diskusi dapat mengembangkan sikap demokratif, dapat menghargai pendapat orang lain
f)          Dengan diskusi pelajaran menjadi relevan dengan kebutuhan masyarakat.[12]
3.      Penyajian Materi/Bahan Ajar
Bahan atau materi pelajaran (learning materials) adalah segala sesuatu yang menjadi isi kurikulum yang harus dikuasai oleh siswa sesuai dengan kompetensi dasar dalam rangka pencapaian standar kompetensi setiap mata pelajaran dalam satuan pendidikan tertentu. Materi pelajaran merupakan bagian terpenting dalam proses pembelajaran, bahkan dalam proses yang berpusat pada materi pelajaran (subject-centered teaching), materi pelajaran merupakan inti dari kegiatan pembelajaran.[13]
Ditinjau dari beberapa pihak guru, materi pembelajaran itu harus diajarkan atau di sampaikan dalam kegiatan pembelajaran. Ditinjau dari pihak siswa bahan ajar itu harus dipelajari siswa ddalam rangka menapai standar kompetensi dan kompetensi dasar yang akan dinilai dengan menggunakan instrument penilaian yang disusun berdasar indicator pencapaian belajar.
Ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam penyusunan bahan ajar atau materi pembelajaran. Prinsip-prinsip dalam pemilihan materi pembelajaran meliputi prinsip relevansi, konsistensi dan kecukupan.
Prinsip relevansi artinya keterkaitan. Materi pembelajaran hendaknya relevan atau ada kaitan atau ada hubungannya dengan pencapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar. Sebagai misal, jika kompetensi yang diharapkan dikuasai siswa berupa menghafal fakta, maka materi pembelajaran yang diajarkan harus berupa fakta atau bahan hafalan.
Prinsip konsistensi artinya keajegan. Jika kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa empat macam, maka bahan ajar yang harus diajarkan juga harus meliputi empat macam. Misalnya kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa adalah pengoperasian bilangan yag meliputi penambahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian, maka materi yang diajarkan juga harus meliputi teknik penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian.[14]
Prinsip kecukupan artinya materi yang diajarkan hendaknya cukup memadai dalam membantu siswa menguasai kompetensi dasar yang diajarkan. Materi tidak boleh terlalu sedikit, dan tidak boleh terlalu banyak. Jika terlalu sedikit aka kurang membantu mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar. Sebaliknya, jika terlalu banyak akan membuang- buang waktu dan tenaga yang tidak perlu untuk mempelajarinya.
Sebelum melaksanakan pemilihan bahan ajar, terlebih dahulu perlu diketahui Kriteria pemilihan bahan ajar. Kriteria pokok pemilihan bahan ajar atau materi pembelajaran adalah standar kompetensi dan kompetensi dasar. Hal ini berarti bahwa materi pembelajaran yang dipilih untuk diajarkan oleh guru di satu pihak dan harus dipelajari siswa di lain pihak hendaknya berisikan materi atau bahan ajar yang benar-benar menunjang tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar. Dengan kata lain, pemilihan bahan ajar haruslah mengacu atau merujuk pada standar komptensi.
Setelah diketahui criteria pemilihan bahan ajar, sampailah kita pada langkah-langkah pemilihan bahan ajar. Secara garis besar langkah-langkah pemilihan bahan ajar meliputi pertama-tama mengidentifikasi aspek-aspek yang terdapat dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar yang menjadi acuan atau rujukan pemilihan bahan ajar. Langkah berikutnya adalah mengidentifikasi jenis-jenis materi bahan ajar. Langkah ketiga memilih bahan ajar yang sesuai atau relevan dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah teridentifikasi tadi. Terakhir adalah memilih sumber bahan ajar.[15]
C.    Hakikat Motivasi belajar
a.      Pengertian Motivasi
Sering kita mendengar bahwa prestasi belajar peserta didik rendah karena salah satu alasan, yaitu motivasi yang rendah. Motivasi bisa menjadi hambatan bagi peserta didik untuk meraih kesuksesan baik dalam belajar maupun dalam kehidupan. Begitu pentingnya motivasi bagi seseorang untuk melakukan dan mencapai sesuatu maka diperlukan upaya untuk tetap menjaga motivasi agar tetap stabil atau bahkan sebisa mungkin dapat ditingkatkan.[16]
Jika seseorang termotivasi dalam melakukan sesuatu maka dia akan seperti mempunyai energy tersendiri yang mengalir di tubuhnya. Energy tersebut sepertinya datang tanpa kita tahu dari mana asalnya dan berapa lama akan habis jika digunakan. Jika motivasi yang tinggi dimiliki oleh peserta didik dalam belajar maka akan menyebabkan suatu perubahan yang luar biasa.
Beberapa pendapat tentang definisi motivasi yang ditulis oleh haryanto adalah sebagai berikut.
a.       Mc Donald
Menurut Mc Donald, Motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan. Definisi tersebut menunjukan bahwa motivasi merupakan sesuatu yang kompleks.
b.      Thomas L. Good dan Jere B. Braphy
Motivasi sebagai suatu energy penggerak dan pengarah, yang dapat memperkuat dan mendorong seseorang untuk bertingkah laku. Berdasarkan definisi tersebut, dapat diketahui bahwa seseorang melakukan[17] sesuatu tergantung dan motivasi yang dimilikinya.
c.       Siti Sumarni
Motivasi secara harfiah adalah dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar, atau tidak sadar, untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu. Sementara itu secara psikologis, berarti usaha yang  dapat menyebabkan sesorang atau kelompok orang tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendakinya, atau mendapat kepuasan dengan perbuatannya.
Dari beberapa definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa motivasi merupakan keseluruhan daya penggerak, baik dari dalam diri maupun dari luar dengan menciptakan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu yang menjamin kelangsungan dan memberikan arah pada kegitan sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek itu dapat tercapai.
Kita lebih sering mengenal definisi belajar sebagai proses penambahan pengetahuan. Definisi tersebut sepertinya merupakan pandangan lama dan mempunyai cakupan yang sempit. Pandangan tersebut seolah-olah hanya menggambarkan bahwa proses belajar hanya merupakan penjejakan ilmu pengetahuan pada peserta didik. Sebenarnya, hal ini tidak sepenuhnya salah karena pada kenyataannya belajar itu menambah pengetahuan bagi peserta didik.[18]
b.      Pentingnya Motivasi Belajar
            Motivasi mempunyai peran penting dalam kgiatan belajar. Dimana motivasi adalah tenaga yang menggerakkan dan mengarahkan aktivitas seseorang.[19] Berbagai komponen yang terdapat dalam kegiatan pembelajaran khususnya guru dan peserta didik, akan dapat bekerja maksimal bila ada sesuatu yang mendorong mereka untuk melakukan hal tersebut, yaitu motivasi. Karena dalam hal ini, sudah seharusnya kegiatan pembelajaran yang dilakukan berpusat pada peserta didik. Peserta didik harus mempunyai motivasi agar mampu mengikuti kegiatan pembelajaran dan berhasil mencapai kompotensi tertentu.
Motivasi tersebut bisa merupakan motivasi instrinsik dan ekstrinsik. Motivasi instrinsik adalah motivasi yang berasal dari dalam diri peserta didik itu sendiri. Motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang datangnya dari luar, misalnya guru, orang tua, lingkungan belajar dan lain sebagainya. Baik motivasi intrinsik dan ekstrinsik keduanya mempunyai peran tersendiri dalam pencapaian prestasi belajar peserta didik.
Motivasi intrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Sebagai contoh seseorang ynag senang membaca, tidak usah ada yang menyuruh atau mendorongnya, ia sudah[20] rajin mencari buku-buku untuk dibacanya. Kemudia kalau dilihat dari segi tujuan kegiatan yang dilakukannya (misalnya kegiatan  belajar), maka yang dimaksud dengan motivasi intrinsic ini adalah ingin mencapai tujuan yang terkandung di dalam perbuatan belajar itu sendiri.
Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan[21] berfungsinya karena adanya perangsang dari luar. Sebagai contoh seseorang itu belajar, karena tahu besok paginya akan ujian dengan harapan mendapatkan nilai baik, sehingga akan dipuji oleh pacarnya, atau temannya. Jadi yang penting bukan karena belajar ingin mengetahui sesuatu, tetapi ingin mendapatkan nilai yang baik, atau agar mendapat hadiah. Jadi kalau dilihat dari segi tujuan kegiatan yang dilakukannya, tidak secara langsung bergayut dengan esensi yang apa yang dilakukannya itu. Oleh karena itu, motivasi ekstrinsik apat juga dikatakan sebagai bentuk motivasi yang di dalamnya aktivitas belajar dimulai dan diteruskan berdasarkan dorongan dari luar yang tidak secara mutlak berkaitan dengan aktivitas belajar.[22]
Motivasi belajar penting bagi siswa dan guru. Bagi siswa pentingnya motivasi belajar adalah sebagai berikut:
a.       Menyadarkan kedudukan pada awal belajar, proses dan hasil akhir, contonya: setelah siswa membaca suatu bab buku bacaan, dibandingkan dengan temannya sekelas yang juga bab tersebut, ia kurang berhasil menangkap isi, maka ia terdorong membaca lagi.
b.      Menginformasikan tentang kekuatan usaha belajar yang dibandingkan dengan teman sebaya, sebagai ilustrasi jika terbukti usaha belajar seorang siswa belum memadai maka ia berusaha maka ia berusaha setekun temannya yang belajar dan berhasil.
c.       Mengarahkan kegiatan belajar, sebagai ilustrasi setelah ia ketahui bahwa dirinya belum belajar secara serius, seperti bersenda gurau di dalam kelas maka ia akan merubah perilaku belajarnya.
d.      Membesarkan semangat belajar, contoh seorang anak yang telah menghabiskan banyak dana untuk sekolahnya dan masiih ada adik yang di biayai orang tuamaka ia kan berusaha agar cepat lulus.
e.       Menyadarkan tentang adanya perjalanan belajar dan kemudian bekerja, siswa dilatih untuk menggunakan kekuatannya sehingga dapat berhasil. Sebagai ilustrasi, stiap hari siswa di harapkan untuk belajar di rumah, membantu orang tua dan bermain dengan temannya. Apa yang di lakukan di harapkan daapat berhasil memuaskan.
Motivasi belajar juga penting di ketahui oleh seorang guru. Pengetahuan dan pemahaman tentang motivasi belajar pada siswa bermanfaat bagi guru, manfaat itu sendiri sebagai berikut.
a.       Membangkitkan , meningkatkan, dan memelihara semangat siswa, dalam hal ini pujian, hadiah, dorongan, atau pemicu semangat dapat di gunakan untuk mengobarkan semnagat belajar.
b.      Mengetahui dan memahami motivasi belajar siswa di kelas yang bermacam-macam sehingga dengna bermacamnya motivasi tersebut di harapkan guru dapat menggunakan bermacam-macam strategi belajar mengajar.
c.       Meningkatkan dan menyadarkan guru untuk memilih satu diantara bermacam-macam peran seperti sebagai penasihat, fasilitator, instruktur, teman diskudi dan penyemangat.[23]
c.       Upaya guru dalam meningkatkan motivasi belajar siswa
Meningkatkan motivasi belajar siswa adalah salah satu kegiatan integral yang wajib ada dalam kegiatan pembelajaran. Selain memberikan dan mentransfer ilmu pengetahuan guru juga bertugas untuk meningkatkan motivasi anak dalam belajar. Tidak bisa kita pungkiri bahwa motivasi belajar siswa satu dengan yang lain sangat berbeda, untuk itulah penting bagi guru selalu senantiasa memberikan motivasi kepada siswa supaya siswa senantiasa memiliki semangat belajar dan mampu menjadi siswa yang berprestasi serta dapat mengembangkan diri secara optimal. Proses pembelajaran akan berhasil manakala siswa mempunyai otivasi dalam belajar. Untuk memperoleh hasil belajar yang optimal, guru dituntut kreatif membangkitkan motivasi belajar siswa. Berikut ini dikemukakan beberapa petunjuk untuk meningkatkan motivasi belajar siswa.
a.       Memperjelas tujuan yang ingin dicapai
Tujuan ynag jelas dapat membuat siswa paham kearah mana ia ingin dibawa. Pemahaman siswa terhadap tujuan pembelajaran dapat menumbuhkan[24] minat siswa untuk belajar yang pada gilirannya dapat meningkatkan motivasi belajar mereka. Semakin jelas tujuan yang ingin dicapai, maka akan semakin kuat motivasi belajar siswa. Oleh sebab itu, sebelum proses pembelajaran dimulai hendaknya guru menjelaskan terlebih dahulu tujuan yang ingin dicapai.
b.      Membangkitkan minat siswa
Siswa akan terdorong untuk belajar manakala mereka memiliki minat untuk belajar. Oleh karena itu, mengembangkan minat belajar siswa merupakan salah satu teknik dalam mengembangkan motivasi belajar. Salah satu cara yang logis untuk memotivasi siswa dalam pembelajaran adalah mengaitkan pengalaman belajar dengan minat siswa. Pengaitan pembelajaran dengan minat ssiswa adalah sanagt penting, dank arena itu tunjukkanlah bahwa penngetahuan yang dipelajari itu sangat bermanfaat bagi mereka.
c.       Ciptakan suasana yang menyenangkan dalam belajar.
Siswa hanaya mungkin dapat belajar baik manakala ada dalam suasana yang menyenangkan, merasa aman, bebas dari takut. Usahakan agar kelas  selamanya dala suasana hidup segar, terbebas dari rasa tegang. Untuk itu guru sekali-kali dapat melakukan hal-hal yang lucu.
d.      Menggunakan variasi metode penyajian yang menarik.
Guru harus mampu menyjikan informasi dengan menarik, dan asing bagi siswa-siswa. Seuatu informasi yang disampaikan dengan teknik yang baru, dengan kemasan yang bagus didukung oleh alat-alat berupa sarana atau media yang belum pernah dikenal oleh siswa sebelumnya sehingga menarik perhatian bagi mereka untuk belajar. Dengan pembelajaran yang menarik, maka akan membangkitkan rasa ingin tahu siswa di dalam kegiatan pembelajaran yang selanjutnya siswa akakn termotivasi dalam pembelajaran.[25]
e.       Berilah pujian yang wajar setiap keberhasilan siswa
Motivasi akan tumbuh manakala siswa merasa dihargai. Dalam pembelajaran, pujian dapat dimanfaatkan sebagai alat motivasi. Karena anak didik juga manusia, maka dia juga senang dipuji. Karena pujian menimbulkan rasa puas dan senang. Namun begitu, pujian harus sesuai dengan hasil kerja siswa. Jangan memuji secara berlebihan karena akan terkesan dibuat-buat. Pujian yang  baik adalah pujian yang keluar dari hati seorang guru secara wajar dengan maksud untuk memberikan pengahargaan kepada siswa atas jerih payahnya dalam belajar.


f.       Berikan penilaian
Banyak siswa yang belajar karena ingin memperoleh nilai bagus. Untuk itu mereka belajar dengan giat. Bagi sebagian siswa nilai dapat menjadi motivasi yang kaut untuk belajar. Oleh karena itu, penilaian harus dilakukan dengan segera agar siswa secepat mungkin mengetahui hasil kerjanya. Penilaian harus dilakukan secar objektif sesuai dengan kemampuan siswa masing-masing.
Penialian secara terus menerus akan mendorong siswa belajar, oleh karena setiap anak memiliki kecenderungan untuk memperoleh hasil yang baik. Disamping itu, para siswa selalu mendapat tantangan dan masalah yang harus dihadapi dan dipecahkan, sehingga mendorongnya belajar lebih teliti dan seksama.
g.      Berilah komentar terhadap hasil pekerjaan siswa
Siswa butuh penghargaan. Penghargaan bisa dilakukan dengan memberikan komentar positif. Setelah siswa selesai mengerjakakn suatu tugas, sebaiknya berikan komentar secepatnay, misalnya dengan memberikan tulisan “bagus” atau “teruskan pekerjaanmu” dan lain sebagainya. Komentar yang positif dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.
Penghargaan sangat efektif untuk memotivasi siswa dalam mengerjakan tugas-tugas, baik tugas-tugas yang harus dikerjakan segera, maupun tugas-tugas yang berlangsung terus menerus. Sebaliknya pemberian celaan kuang menumbuhkan motivasi dalam belajar. Bahkan menimbulkan efek psikologis yang lebih jelek.
h.      Ciptakan persaingan dan kerjasama.
Persaingan yang sehat dapat menumbuhkan pengaruh yang  baik untuk keberhasilan proses pembelajaran siswa. Melalui persaingan siswa dimungkinkan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memperoleh hasil yang terbaik.[26]






[1] Siti Asia T.Pido, Kinerja Guru Tersertifikasi, (Gorontalo: Sultan Amai Press, 2015), Cet. Ke-1, h. 65
[2] Ibid, h. 66
[3] Ibid, h. 68
[4] Fitrawati Sino, skripsi Kompetensi Profesional Guru dalam Mengembangkan Kreativitas anak di TK Bina Karya Kec. Popayato Kab. Pohuwato, (Gorontalo: 2011), h. 11
[5] Martinis Yamin, Profesionalisasi Guru dan Implementasi KTSP, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2007), Cet. Ke-2, h. 5-7
[6] Kunandar, Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Persiapan Menghadapi Sertifikasi Guru, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007), Cet. Ke-1. h. 47
[7] Andi Prastowo, Pengembangan Bahan Ajar Tematik: Panduan Lengkap Aplikatif, (Jogjakarta: Diva Press, 2013), h. 69
[8] E. Mulyasa, Menjadi Guru PROFESIONAL: Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2013), Cet. Ke-12, h. 107-113
[9] Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran: Untuk Membantu Memecahkan Problematika Belajar dan Mengajar, (Bandung: Alfabeta, 2011), Cet. Ke-9, h. 201
[10]  E. Mulyasa, Op.Cit, h. 114
[11] Syaiful Sagala, Op.Cit, h. 203
[12] Syaiful Sagala, Ibid, h. 208
[13] Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran, (Bandung: Kencana, 2008), h. 141
[14] Abdul Rahmat, Belajar dan Pembelajaran: menciptakan Sorga-Sorga Kecil di Kelas dan di Kehidupan, (Gorontalo: Ideas Publishing, 2015), h. 75
[15] Ibid, h. 76
[16] Erwin Widiasworo, 19 Kiat Sukses Membangkitkan Motivasi Belajar Peserta Didik, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2015), Cet. Ke-1, h. 14
[17] Ibid, h. 15
[18] Ibid, h. 16
[19] Hamzah B.Uno & Abdul Karim Rauf, Desain Pembelajaran, (Gorontalo: Sultan Amai Press, 2008), Cet. Ke-1, h. 108
[20] Sardiman, Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2011), h. 89
[21]Ibid, h. 90
[22] Ibid, h. 91
[23] Suppiah, Pengantar Psikologi Pendidikan, (Gorontalo: Sultan Amai Press, 2015), h. 131-132
[24]Ibid, h. 137
[25]Ibid, h. 138
[26] Ibid, h. 139

Tidak ada komentar:

Posting Komentar